Singkirkan Staf Berkinerja Rendah

Barangkali terdengar agak sedikit kejam, atau bahkan memang sadis. Singkirkan staf berkinerja rendah. Tapi, itulah yang dilakukan oleh para eksekutif senior di banyak perusahaan di Inggris. Mau mencontoh? Simak dulu baik-baik kisah selengkapnya.

Lebih dari tiga perempat (ya, 75 persen!) pimpinan perusahaan di Inggris punya kecenderungan tegas memangkas para karyawan yang kinerjanya dinilai di bawah harapan. Eksekusi pembersihan yang dilakukan setiap tahun itu, menurut mereka, bertujuan untuk meningkatkan profit dan mencapai kinerja yang lebih baik.

Praktik semacam itu terungkap lewat sebuah studi yang dilakukan Hudson. Lembaga konsultan talent management ini melakukan jajak pendapat atas 562 eksekutif dan manajer senior. Tampaknya, banyak bos di Inggris menelan mentah-mentah nasihat yang pernah diberikan oleh mantan CEO General Electric Jack Welch.

Eksekutif yang dikenal dengan anjurannya memecat 10 persen staf yang kinerjanya paling rendah setiap tahun itu punya teori, “Jika Anda punya 16 karyawan, setidaknya dua orang di antaranya buruk.”

Menurut survei Hudson, satu dari 6 ekskutif Inggris percaya mereka bisa menargetkan (memangkas) seperlima karyawan tanpa mengganggu produktivitas dan semangat perusahaan. Dan, hampir separo merasa bahwa memecat 5% lebih sehat dan positif.

Tahun lalu, CEO Microsoft Steve Ballmer membuat pengakuan yang mengejutan dalam sebuah konferensi di Institute of Directors, bahwa ia per tahun menyingkirkan satu dari setiap 15 karyawan di perusahaannya. Dia menegaskan bahwa baik bisnis berskala besar maupun kecil akan mendapatkan keuntungan dengan pendekatan seperti itu.

Dari survei Hudson terindentifikasi bahwa keuntungan utama dari menyingkirkan karyawan berkinerja rata-rata atau rendah adalah kepastian bahwa di dalam tim yang kuat tidak terselip anggota yang lemah.

Keuntungan lain yang disebutkan oleh responden adalah memberi kesempatan kepada staf berkinerja rendah untuk mencoba tantangan baru yang sesuai dengan kemampuannya; dan, meningkatkan produktivitas perusahaan.

Tapi, hanya 4% perusahaan yang saat ini dengan sengaja melakukan “perampingan” staf mereka. Hampir satu dari 4 bos menyatakan bahwa iklim ketenagakerjaan dewasa ini, di mana ketersediaan talent langka, mendorong mereka lebih memilih untuk mempertahankan karyawan berkinerja rata-rata atau bahkan yang rendah.

CEO Hudson Inggris John Rose mengatakan, “Ini memang area debat yang relatif tabu. Memangkas staf dalam iklim di mana banyak perusahaan kesulitan mendapatkan talent jelas kontra-intuitif.”

“Tapi, retensi semata-mata demi retensi itu sendiri juga tidak membantu memecahkan masalah, baik krisis skill maupun rendahnya produktivitas. Dan, (survei) kami menemukan bahwa hal itu juga tidak baik bagi kesehatan jangka panjang perusahaan maupun peningkatan karir individu.”

“Kadang-kadang, jalan terbaik karir karyawan kita justru ada di luar (perusahaan) sana. Bisnis harus tahu bagaimana menilai kemampuan teknikal dari orang yang direkrut, apa training yang dia butuhkan.”

Akhirnya, John Rose mengingatkan para pemimpin perusahaan untuk tidak menanamkan budaya ketakutan. Melainkan, menggantinya dengan, misalnya, memberi waktu dan kesempatan kepada staf berkinerja rendah untuk menunjukkan kinerja mereka.

Tags: