Sikap Kerja Positif Prasyarat Menang Kompetisi

Mana yang lebih penting, attitude atau skill? Presdir PT IBM Indonesia Betti Alisjahbana cenderung lebih memilih yang pertama. Menurut dia, sikap kerja yang positif merupakan prasyarat karena tanpa itu mustahil sukses di era yang kompetitif bisa diraih.
Betti mengungkapkan hal itu dalam seminar “Pendidikan Terintegrasi untuk Mendukung Pasar Kerja” yang digelar oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Telematika di Sekolah Bina Nusantara, Jakarta, Selasa (29/5/07).

Berbicara dalam konteks industri yang dilibatinya, ia mengatakan, keterampilan yang dibutuhkan untuk bidang IT di masa depan bukanlah program-program dan layanan-layanan karena area-area tersebut akan diambil alih oleh outsourcing.

“Yang lebih dibutuhkan untuk masa depan adalah pengetahuan tentang proses bisnis dan organisasi, kompetensi di bidang teknik itu sendiri, kemampuan berkomunikasi dan keterampilan humaniora,” papar dia.

Dalam pengalaman Betti merekrut karyawan baru, selama ini perguruan tinggi bidang teknik belum cukup membekali mahasiswa (lulusan) dengan keterampilan yang sangat dibutuhkan industri. Yakni, technical know-how, proses bisnis dan organisasi, komunikasi dan humaniora.

Lalu, ketika membandingkan antara lulusan dalam negeri dan luar negeri, Betti melihat yang disebut pertama tadi umumnya kurang terampil mengungkapkan pendapat dan mengkomunikasikan ide-ide serta kurang percaya diri dibandingkan yang kedua.
“Namun, kekurangan itu bisa diatasi dengan pelatihan dan pengembangan, dan akhirnya mereka pun bisa mengejar ketertinggalan dalam hal itu,” ujar dia.

IBM sendiri, Betti mengungkapkan, selama ini menetapkan kriteria umum untuk kandidat yang dicari, yakni harus memiliki integritas tinggi, bisa dipercaya, semangat kerja, ulet, energi tinggi, mampu bekerja dengan rasa urgensi tinggi, bertanggung jawab, bisa bekerja dalam tim dan mudah beradaptasi dengan lingkungan yang bervariasi.

Lebih jauh Betti menjelaskan, untuk mendapatkan SDM sesuai yang diharapkan, IBM menempuh dua jalur rekrutmen, yakni jalur sarjana lulusan baru dan jalur profesional berpengalaman.

“Untuk menjaring lulusan baru, kami mengadakan rekrutmen sekali setahun. Mereka yang diterima akan dikembangkan secara intensif selama tiga bulan sebelum berlanjut ke on job training,” ujar dia seraya menambahkan bahwa saringan awal itu melalui nilai, prestasi organisasi, aptitude test, english test dan tiga tahap wawancara.Sedangkan, jalur profesional ditempuh untuk mengisi lowongan khusus, dengan penilaian berdasarkan CV, tiga tahap wawancara dan pengecekan referensi.

“Masing-masing (jalur) memiliki kelebihan dan kekurangan. Lulusan baru umumnya lebih loyal dan kita bisa menanamkan nilai-nilai perusahaan sejak dini pada mereka, sementara profesional tidak seloyal yang baru lulus dan nilai-nilai yang mereka miliki sering tak sejalan dengan IBM,” papar Betti.

Akhirnya, Betti menyarankan agar perguruan tinggi lebih memperhatikan soal pengembangan keterampilan komunikasi dan humaniora. Selain itu, mahasiswa juga perlu dilatih dan diberi kesempatan untuk memahami dunia usaha yang sebenarnya.
“Dosen juga perlu menjalin hubungan erat dengan industri atau dunia usaha agar materi dan cara mengajar tidak terlalu teoritis dan kaku,” tambah dia.

Tags: