Sikap Buruk di Tempat Kerja Merusak Employee Engagement

Lingkungan kerja bukanlah tempat yang steril dari perilaku-perilaku buruk dan tak sopan. Semua orang menyadari itu. Sebuah penelitian terbaru mengingatkan kembali pentingnya kesadaran bahwa kolega atau pun manajer yang tak sopan dan mengganggu bisa menjadi pengaruh buruk terhadap keterikatan dan produktivitas karyawan.

Dr Barbara Griffin dari University of Western Sydney, Australia melakukan survei Best Employer untuk Hewitt Associates, yang melibatkan responden lebih dari 54 ribu karyawan dari 179 organisasi di Australia dan Selandia Baru. Dia menemukan, satu dari 5 karyawan mengalami insiden serius berkaitan dengan sikap buruk di tempat kerja sekali dalam sebulan.

“Teman kerja yang tidak sopan dan mengganggu adalah mereka yang terus-menerus bertanya tentang pendapat Anda atas sesuatu hal, melibatkan Anda dalam situasi-situasi tertentu, memotong saat Anda bicara, mengeluarkan komentar-komentar yang mencela, menyembunyikan informasi atau meremehkan ide Anda,” papar Dr Griffin yang ahli psikologi organisasi itu.

“Perilaku seperti itu lebih halus dan lebih menyebar dibandingkan dengan apa yang selama ini kita sebut bullying yang lebih mentargetkan orang tertentu dan terjadi lebih sering,” jelas dia.

“Namun, perilaku buruk seperti itu tetap berpengaruh besar terhadap employee engagement, yakni apakah Anda bertahan dalam organisasi dan bicara positif tentang pekerjaan, atau pergi jauh-jauh. Juga, bisa menyebabkan gangguan psikologis dan kesehatan fisik.”

Studi juga memperlihatkan, bahkan komentar tak sopan yang jarang pun cukup untuk mengurangi keterikatan dan membuat karyawan merasa kurang peduli terhadap pekerjaannya.

Implikasi Bisnis

Dr Griffin mengatakan, hasil riset yang dilakukannya tersebut memiliki implikasi-implikasi yang luas bagi bisnis.

“Kita tahu bahwa employee engagement yang buruk berpengaruh terhadap produktivitas dan kepuasan pelanggan, di samping meningkatkan turnover,” ujar dia.

Oleh karenanya, menurut Dr Griffin, manajemen senior perlu mengatasi masalah tersebut dengan membuat model perilaku yang baik dan menciptakan atmosfer di mana orang merasa diperlakukan secara fair. Dan, tak kalah penting, perusahaan juga perlu memiliki prosedur untuk mengelola perilaku tak sopan dan memastikan kebijakan tersebut berlaku untuk semua karyawan.

Batasan mengenai perilaku tidak sopan itu sendiri sebenarnya masih menjadi perdebatan. Sebuah survei di Inggris misalnya menemukan bahwa karyawan cenderung “bisa menerima” orang yang selalu terlambat menghadiri meeting, menjawab telepon ketika meeting berlangsung, atau mengirim SMS di sela berbincang-bincang dengan orang lain.

Apapun batasannya, apa yang harus dilakukan jika menghadapi perilaku-perilaku yang tidak sopan? Saran Dr Griffin, pertama, jangan melakukan aksi balasan. Bereaksi dengan cara yang sama (tidak sopan) bisa meningkatkan perilaku-perilaku agresif di tempat kerja.

Kedua, jika keadaan memungkinkan, cobalah untuk berbicara dengan orang lain dan ceritakan kepada mereka bahwa Anda menemukan perilaku yang tidak sopan. Jika itu tidak membantu, dan bahkan situasi makin memburuk, pertimbangkan untuk mengangkat isu tersebut ke tingkat perusahaan.

Tags: