Sering Pindah Kerja Ganggu Prospek Gaji

Banyak karyawan meyakini, pindah tempat kerja merupakan salah satu cara terbaik untuk menaikkan gaji dengan cepat. Anda termasuk yang berasumsi demikian? Mulai sekarang berhati-hatilah. Sebuah hasil riset terbaru menunjukkan bahwa berpindah-pindah (tempat) kerja terlalu sering sebenarnya justru bisa merusak prospek gaji Anda.
Studi pustaka yang dilakukan akademisi dari University of British Columbia tersebut menyimpulkan bahwa karyawan yang terlalu sering berganti pekerjaan atau pun pindah tempat kerja secara umum berakhir dengan gaji yang lebih rendah dibadingkan dengan karyawan lain yang lebih stabil.

Sosiolog Sylvia Fuller menguji data National Longitudinal Survey of Youth 1979 yang merekam hampir 6000 orang pekerja dan meneliti 12 tahun pertama perjalanan karier mereka di pasar tenaga kerja. Hasilnya, seperti dipublikasikan di Jurnal American Sociological Review terbitan American Sociological Association, pada setiap pekerja, kebanyakan benefit dari mobilitas karier didapat pada masa awal karier mereka. Mobilitas bisa menjadi aset yang besar ketika itu dilakukan pada tahun-tahun awal memasuki dunia kerja.

Dalam hal ini, mobilitas baik tingkat sedang maupun tinggi bisa meningkatkan pendapatan menjadi lebih baik dibandingkan dengan karier yang stabil. Namun, pada sisi lain, Fuller menemukan, secara umum, tingkat pendapatan menurun seiring dengan perkembangan mobilitas. Temuan tersebut memberi konsekuensi yang signifikan utamanya bagi kaum pekerja yang selama ini berasumsi bahwa berpindah kerja merupakan cara termudah untuk meningkatkan gaji. Di Amerika misalnya, gejala berpindah-pindah (tempat) kerja semakin menjadi hal biasa di semua sektor ekonomi.

“Dalam kurun 30 tahun terakhir terlihat adanya pengikisan long-term employment, dan kaum muda semakin keras menyuarakan harapan mereka untuk tak hanya bekerja di satu teempat sepanjang karier,” ujar Fuller. “Studi ini menunjukkan bahwa berpindah-pindah kerja tidak selalu berujung pada pendapatan yang lebih tinggi,” tambah dia. Menurut Fuller, karyawan yang sering berpinsah-pindah akan gagal mengakumulasi hal-hal bernilai yang didapat dari masa awal karier, sebagaimana bisa dilakukan oleh mereka yang bertahan pada perusahaan yang sama dalam setidaknya 5 tahun. Fuller juga menemukan, para pakerja dengan mobilitas karier yang tinggi cenderung lebih banyak menghabiskan waktu percuma.

Tags: