Separo Keputusan “Hiring” Salah

Anda karyawan baru, dan merasakan hal seperti ini: perhatian atasan kepada Anda menurun setelah beberapa hari Anda masuk kerja? Jangan tersinggung jika Anda tahu penyebabnya. Semua itu tak lain karena sang bos menyesal telah meng-hire Anda!
Kenyataan pahit semacam itu terungkap lewat sebuah penelitian yang dilakukan oleh lembaga rekrutmen The Recruiting Roundtable di Amerika Serikat, yang antara lain menemukan bahwa separo dari keputusan yang diambil berkaitan dengan proses hiring, baik pada sisi perusahaan maupun karyawan, salah.

Hasil survei yang sama juga mengingatkan bahwa hiring yang buruk meminta ongkos yang sangat mahal, karena hasilnya adalah kinerja yang rendah, karyawan yang tidak “enganged” dan angka turn over yang tinggi. Menariknya, penyesalan tidak hanya dialami pihak perusahaan dalam hal ini manajer hiring, melainkan juga melanda pihak karyawan baru yang di-hire. Survei menemukan bahwa hampir separo karyawan yang baru bergabung dengan perusahaan juga kecewa dengan lingkungan kantor, teman-teman sekerja dan manajer.

Dilaporkan, 4 dari 10 karyawan yang baru bergabung menyesalkan informasi yang mereka terima sebelumnya mengenai pekerjaan yang ditawarkan kepada mereka. Mereka menilai, setelah bergabung dengan perusahaan, informasi tersebut tidak akurat. “Organisasi tidak bisa membiarkan kesalahan dalam keputusan-keputusan meng-hire orang terus-menerus terjadi, sebab biayanya terlalu besar, baik untuk ditanggung perusahaan maupun bagi kelanjutan karir sang karyawan,” ujar direktur senior pada Recruiting Roundtable Donna L Weiss.

Lalu, apa pelajaran berharga yang bisa dipetik oleh perusahaan dan karyawan berkaitan dengan kesalahan yang terjadi pada proses hiring? Setelah menganalis lebih dari 8.500 manajer hiring dan 19.000 karyawan yang baru bergabung dengan mereka, The Recruiting Roundtable menyimpulkan, ada tiga penyebab utama organisasi gagal secara konsisten mendapatkan kandidat-kandidat yang berkualitas tinggi.

1. Terlalu bergantung pada kandidat untuk mendeskripsikan diri mereka sendiri, dan bukannya meminta para kandidat itu menunjukkan kemampuan mereka.

2. Gagal menindaklanjuti secara konsisten proses pengambilan keputusan atas seleksi berdasarkan bukti-bukti.

3. Tidak cukup menyediakan informasi yang memadai kepada kandidat mengenai pekerjaan yang ditawarkan.

Tags: