Semua Bisnis Kuncinya di HRD

 

Kunci semua bisnis terletak pada HRD. Hanya yang membedakan, sejauh mana HRD mampu menemukan orang yang tepat. Mengatakan bahwa HR merupakan aset yang paling berharga, tidaklah cukup. Melainkan, hanya (orang) yang tepat saja yang berharga

Demikian salah satu prinsip yang diyakini dan dipraktikkan oleh Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk Santosa dalam mengembangkan bisnisnya.

“Any business kuncinya di HRD. Yang membedakan, kalau orang bilang, aset yang paling berharga itu HR, kan nggak selesai, hanya yang tepat doang yang berharga, kalau nggak tepat bisa mengganggu,” ungkap dia dalam perbincangan dengan PortalHR.com di Jakarta.

Sebagai pemimpin perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan, Santosa merasakan betapa vital peran HRD dalam menemukan orang-orang yang memiliki passion pada hal-hal yang berkaitan dengan dunia kebun.

“Bagi yang ngerti perkebunan, kalau mau ngomong sekolahan bener, dari IPB berapa persen sih yang mau kerja di kebun?” tanya Santosa retorik, seraya menyebut Institut Pertanian Bogor sebagai salah satu penyedia SDM bidang berkebunan.

Menurut dia, jawabnya kurang dari 30%. “Yang nggak keterima di mana-mana, itu yang akhirnya mau kerja di perkebunan.”

“Orang lebih suka kerja di bank, wangi pakai dasi, karena kerja di perkebunan itu di remote area yang nggak ada apa-apa. Tapi, orang yang cinta kebun, dia lebih suka di kebun ketimbang disuruh (kerja) di Jakarta.”

Lalu, Santosa menceritakan pengalaman-pengalaman uniknya bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat besar untuk bekerja di perkebunan.

“Mereka bisa merasakan harumnya tanah, mengenal betul daun-daun…ini ijo tapi nggak subur, ini coklat kekuningan tapi bisa direhabilitasi…sampai segitunya. Orang-orang seperti itu mencintai bukan sebagai bisnis, tapi memang passion-nya di situ.”

“Kuncinya di situ, rahasia dagangnya di situ, lebih ke memahami karakter orang,” tambah Santosa.

Prinsip lain yang dipegang Santosa dalam mengelola HR adalah ketegasan. “Kalau orang nggak bagus, harus dikasih tahu, mumpung masih muda, masih bisa mencari pekerjaan lain di luar, suruh dia keluar, daripada di dalam nggak perform jadi masalah.”

Diakui, prinsip seperti itu memang bisa dianggap kejam, namun menurut Santosa, orang yang tidak perform dalam satu organisasi, jika dibiarkan terus berada di posisinya, akan menjadi contoh yang tidak baik bagi karyawan lain.

“Jadi, nggak perform, check out aja. Kalau nggak mau, jangan dinaikin gajinya, bonus dikecilin. Tapi, kalau dia mau keluar, saya akan respek. Banyak orang yang nggak berani mengambil tanggung jawab.”

 

Tags: