Sektor Sepatu Tambah 15 Ribu Karyawan

Sektor industri alas kaki termasuk sepatu siap meyerap tenaga kerja sekitar 15.000 orang mulai akhir 2010 ini. Tren relokasi order produk sepatu olahraga dari China dan Vietnam menopang peningkatan produksi industri alas kaki nasional untuk mendongkrak penyerapan tenaga kerja di dalam negeri.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Harijanto mengatakan, tren relokasi atau pengalihan order dari negara-negara pesaing Indonesia akan memberikan penguatan industri yang padat tenaga kerja ini dalam 20 tahun ke depan.
“Relokasi ini sudah dimulai, di Kabupaten Tangerang sekarang 3 pabrik sedang konstruksi. Akhir tahun ini paling tidak terserap 15.000 orang,” papar Harijanto dalam acara temu pejabat Banten dengan Kepala BKPM di Kantor BKPM, Jakarta, Selasa (6/5/2010).

Harijanto menjelaskan, total tenaga kerja yang terserap di industri sepatu mencapai 450.000 orang. Angka ini masih relatif kecil jika dibandingkan dengan sebelum krisis moneter 1998 yang mampu menyerap hampir 800.000 tenaga kerja. Saat ini pusat industri sepatu di Indonesia terkonsentrasi di wilayah Sidoardjo (Surabaya), Jawa Timur dan wilayah Banten (termasuk Tangerang dan Serang). Di antaranya, sebanyak 80% produk sepatu berbasis ekspor berada di wilayah Banten.

Lebih jauh Harijanto mengharapkan, tren relokasi ini bisa dimanfaatkan secara maksimal, mengingat persaingan investasi antarnegara di bidang persepatuan sangat ketat. Namun, hingga kini merek-merek terkenal seperti Nike maupun Adidas cukup betah mengorder dari Indonesia.”Kalau kita tidak manfaatkan ini, negara pesaing kita siap menerima,” kata Harijanto seperti dilaporkan Detikcom.

Industri sepatu termasuk sektor yang sangat padat karya dan pada modal. Menurut hitungan Aprisindo, jika ada investasi US$ 30 juta maka sebanyak 6.000-7.000 tenaga kerja akan terserap dengan perolehan devisa US$ 60 juta per tahun dari aktivitas ekspor.

Tags: