SDM Telkom Siap Songsong Penugasan Internasional

SEBAGAI perusahaan telekomunikasi pertama dan terbesar di tanah air saat ini, PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk., tidak boleh lengah sedikit pun. Justru, kalau Telkom tidak lincah dalam bergerak, bukan tidak mustahil perusahaan ini akan terpinggirkan. Untuk itulah, beban berat ada di pundak sumber daya manusia (SDM) di perusahaan yang sudah listing di tiga lantai bursa: Jakarta, London, dan New York.

Tantangan SDM Telkom inilah yang menarik dalam diskusi GI-Net Forum, yang diselenggarakan oleh Universitas Atmajaya dan Tjitra and Associates, di Jakarta pekan lalu. Dalam kesempatan tersebut, hadir Ir. Agus Riyanto, MSc, Instruktur Ahli Executive & Leadership (Group of Leadership Program) Telkom sebagai pembicara kunci.

Di awal paparannya, Agus menjelaskan posisi bisnis Telkom saat ini di mana telah terjadi perubahan yang sangat signifikan, dari dulunya hanya penyedia layanan komunikasi konvensional, kini Telkom tengah bergerak menuju bisnis TIMES: Telecommunications, Information, Media, Edutainment and Services.

Agus juga menjelaskan, bahwa bisnis Telkom tidak hanya di dalam negeri saja, akan tetapi telah merambah ke negara-negara lain, baik di Asia maupun Eropa melalui anak-anak perusahaan.

“Kita menyaksikan teknologi berubah sangat cepat, ekonomi, pasar semuanya mulai membesar seiring dengan perubahan terhadap pelanggan dan kompetitor yang pada akhirnya berdampak kepada perusahaan. Atas perubahan inilah, HR di Telkom kini memiliki posisi penting karena menjadi partner bisnis dari manajemen. Misalnya, keseriusan manajemen ini telah dibuktikan dengan berdirinya Corporate University,” imbuh Agus.

Agus lebih jelas memberikan contoh bahwa dunia saat ini tengah mengalami perubahan besar-besaran. Salah satunya adalah perilaku pengguna gadget yang tengah terbuai dengan lompatan teknologi terkini.

“Orang-orang tidak membeli gadget dari bentuk fisiknya saja, tapi lebih karena fitur apa yang dibawa oleh gadget tersebut. Di dalam organisasi pun terjadi perubahan di mana tantangannya adalah menghadapi intercultural environment yang tidak hanya vertikal tapi juga horizontal. Dan hal ini masih ditambah dengan munculnya generation shift,” ujarnya memberikan analogi.

Agus menambahkan ada faktor luar yang begitu penting dalam mempengaruhi environment, yakni kenyataan adanya pergeseran dari baby boomers kepada digital native generations.

“Kita menyaksikan bersama bahwa Gen Y mulai mendominasi, mereka datang dengan pola pikir dan kebiasaan yang berbeda sama sekali dengan dua generasi sebelumnya. Setelah Gen Y, kini sudah bersiap generasi digital native,” katanya.

Lantas apa implikasinya terhadap bisnis? Agus pun memberikan gambaran bahwa Telkom pun mengalami value proposition di mana pada kondisi bisnis telko yang lama, point of interest konsumen hanya terpusat pada dua bisnis inti, yakni fixed line (sambungan telepon rumah) dan mobile phone yang pendapatannya diperoleh dari layanan voice (suara) dan sms. Kini Telkom menghadapi “New Environmnet Telco 2.0” di mana bisnis intinya berubah sama sekali.

Ia menjelaskan, kalau dulu access platform-nya melalui jaringan kabel bawah tanah (backbone) dan BTS (base transceiver station), kini bertambah dengan adanya WiFi, WiMax dan IP networks. “Pembeda paling menyolok saat ini di bisnis Telco 2.0 adalah applications and services platform dan tidak ketinggalan adalah content, yang di dalam organisasi kami kategorikan dalam area IME yaitu informations, media dan edutainment,” terang Agus.

Bergeraknya teknologi baru inilah, masih menurut Agus, yang membuat Telkom harus berbenah dan bersiap dengan ‘compete with global player.’ “Inilah yang sedang kami siapkan melalui program, international assignment. Di mana tahun ini kami telah mengirim 100 orang dan tahun depan direncana akan dikirim lagi gelombang berikutnya, sebanyak 1.000 orang,” imbuhnya.

Tentang program international assignment ini, Agus menerangkan HR memiliki pekerjaan rumah untuk men-develop SDM menjadi credible, capable dan certified global talent dengan kompetensi di bidang technical, entrepreneur, functional and leadership sehingga nantinya outputnya adalah ia siap memangku international job assignment.

“Menariknya dalam program ini kami menerapkan prinsip-prinsip business while learning, sehingga peserta ditantang sedemikian rupa untuk tidak hanya belajar saja, tapi mereka bisa mengeksplorasi ide business, dan syukur-syukur pulangnya langsung membawa sebuah project,” tukasnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Hora Tjitra dari Zhejiang University China, sebagai pembicara kedua memaparkan topik “Strategic International HR Process: Successful in Doing Business Abroad,” yang merupakan hasil penelitian terbaru mengenai international assignment, disertai praktik-praktik terbaik dari keragaman global dan kepemimpinan internasional dengan multinational company di Jerman dan China.

Dalam presentasinya, Hora menjelaskan beberapa strategi dan proses internasionalisasi, juga bagaimana peran strategis dari international assignment untuk pengembangan talent di dalam sebuah organisasi serta bagaimana merancang sebuah assessment dan seleksi untuk international assignee.

“Hal penting yang tidak boleh dilupakan adalah mengelola perbedaan budaya dalam sebuah Human Resources Management. Melalui pengelolaan yang baik, maka  potensi yang ada bisa dikembangkan melalui kompetensi antar budaya,” tutur Hora. (*/@erkoes)

Tags: