SDM Generasi Muda Diuntungkan oleh Mundurnya Baby Boomers

Praktik-praktik hiring di setiap perusahaan pada dasarnya selalu merupakan kegiatan yang berhadapan dengan situasi, bagaimana menarik staf berbakat. Namun, persoalan sesungguhnya terus berkembang pada setiap generasi. Sebuah studi yang dilakukan lembaga perekrutan di Amerika, TalentPen mengungkapkan bahwa menemukan kebutuhan-kebutuhan personal karyawan dirasa semakin penting untuk memuaskan, mempertahankan dan menjaring SDM.

Loyalitas pekerja merupakan sesuatu yang tak lagi dipuja seperti sebelumnya, dengan hampir separo -46 persen- dari rekrutan baru meninggalkan pekerjan mereka pada tahun pertama bekerja. Dan, hanya 49 persen yang masih duduk di meja kerjanya setelah dua tahun.

Dengan mundurnya generasi baby boomers(mereka yang lahir antara 1946 hingga 1964) yang hampir memasuki masa pensiun, kaum pengusaha kehilangan satu generasi pekerja berkeahlian memadai. Artinya, pekerja berkeahlian dari generasi sesudahnya yang lebih muda naik mengisi kekosongan itu dan menjadi yang terbaik. Sehingga mereka juga dapat memilih pekerjaan-pekerjaan yang mereka inginkan, dan loyalitas tak lagi memiliki tempat yang tinggi.

Jajak pendapat yang dilakukan atas pegawai bagian perekrutan dan personalia itu menemukan, 59 persen percaya bahwa kurang dari separo calon karyawan yang diwawancara memenuhi kualifikasi untuk pekerjaan yang mereka lamar.

Lebih dari separo merasa, personalitas merupakan hal terpenting yang harus dimiliki calon yang baik.“Mencari kandidat yang semata memenuhi kualifikasi sesuai posisi saja tidak cukup,” kata Presiden TalentPen Michael Sproul seperti dilaporkan Management-issues.

“Banyak faktor lain yang berperan dalam keseluruhan sukses pencarian karyawan baru. Perusahaan-perusahaan perlu berhubungan dengan calon sebagai individu sebelum berharap lebih dari mereka. Dalam hal ini, retensi dimulai sebelum penerimaan,” tambah dia seraya mengingatkan, pengusaha yang tidak mengikuti saran ini akan membayar mahal di kemudian hari.

Tags: