SDM Adalah Perusahaan itu Sendiri

Selama ini SDM diperlakukan sebagai liability alias kewajiban, tanggungan, pertanggungjawaban, sehingga karyawan ditempatkan dalam situasi yang tak menguntungkan. Padahal, sesuai dengan perkembangan dan perubahan global, perusahaan mestinya mulai berpikir bahwa SDM adalah perusahaan itu sendiri.
Demikian diungkapkan oleh Presiden The XO Way Herry Tjahjono dalam artikelnya yang dimuat di Harian Kompas, Jakarta, Kamis (25/6/2009). Mantan praktisi yang kerap dijuluki sebagai budayawan HR itu melihat, di berbagai perusahaan di Indonesia, praktik eksploitasi dengan memperlakukan karyawan sebagai liabilitas masih terjadi.
"Karyawan menjadi komponen produksi. Ungkapan yang dipakai pun mendayagunakan karyawan.Konotasinya negatif. Yakni, bagaimana karyawan diarahkan mencapai target perusahaan. Dari sana nasib karyawan ditentukan tanpa mempertimbangkan faktor esensial, seperti pemberdayaan dan hak karyawan," ujar dia.
Menurut penulis buku "The XO Way: 3 Giants & 6 Liliputs" ini, unsur eksploitasi dalam bentuknya yang lebih halus bahkan masih terjadi ketika perusahaan sudah sampai pada tahap memandang karyawan sebagai aset. "Tahap ini memang jauh lebih baik dibandingkan dengan tahap liabilitas. Namun, proses eksploitasi diam- diam terjadi saat SDM dipertimbangkan dari sudut nilai ekonomis," ujar dia.
Pengertian sederhana aset adalah segala sesuatu yang punya nilai dan siap dikonversikan menjadi uang. Dan, SDM adalah intangible asset. Frase manajemen yang berlaku di sini adalah ”memberdayakan” manusia (SDM). Namun, dalam hemat Herry, semuanya hanya diarahkan pada pemenuhan target organisasi.
"Maka, ketika seorang karyawan dianggap incapable, dia akan diberdayakan melalui berbagai pelatihan di perusahaan. Semua hanya untuk memenuhi target jangka pendek, terbatas kepentingan pragmatis-situasional. Karena itu, kata ‘pendidikan’ amat asing di sebuah perusahaan dan lebih akrab dengan pelatihan," tunjuk mantan Direktur HR Agung Sedayu Group itu.
Mengacu pada Adrian Levy (RLG International), Herry pun menganjurkan agar perusahaan meninggalkan prinsip eksploitasi, dan mulai berpikir bahwa "people are not the most important assets of a company – they are the company; everything else is an asset".
"Pada tahap ini, prinsip manajemen yang dipakai adalah membangun manusia paripurna, tak sekadar manusia produksi atau manusia profesional. Karyawan tak hanya diarahkan untuk memenuhi target, tapi diberi hak, kesempatan memenuhi tujuan hidup termulia sebagai manusia," papar dia.
"Ringkasnya, SDM adalah perusahaan itu sendiri. Maka, sebagai aset, sumber daya lain wajib didayagunakan untuk membangun manusia paripurna yang sadar, punya hak, mau, dan mampu—bukan hanya memenuhi tujuan hidup pribadi termulia, tetapi juga tujuan dan nasib lingkungan, orang lain, perusahaan, sekolah, bangsa, bahkan dunia," simpul Herry.