Satu dari 5 Karyawan Keluar setelah Dua Tahun Bekerja

Fenomena “job shock” yang umum dialami para tenaga profesional yang baru pertama kali menginjakkan kaki di dunia kerja perlu dicermati oleh pengusaha. Sebuah survei tentang tingkat “erosi” pekerja menyatakan, satu dari lima karyawan meninggalkan pekerjaannya dalam dua tahun pertama bekerja.

Survei dilakukan oleh lembaga riset Sirota Survey Intelligence (SSI) di Inggris terhadap 47 ribu karyawan. “Banyak pemimpin perusahaan yang luput menyadari bahwa karyawan baru adalah orang-orang yang memiliki antusias tinggi untuk memulai karir, dan perilaku manajemen telah merusak antusiasme itu,” ujar Presiden SSI Douglas Klein.

“Penelitian kami memperlihatkan angka penurunan pada moral karyawan setelah mereka bekerja di sebuah organisasi selama enam bulan, dan penurunan ini menjadi lebih buruk ketika mereka mengevaluasi antara apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka dapat. Perusahaan yang baik tidak menciptakan situasi yang bisa mengakibatkan penurunan moral ini,” tambah dia.

Tidak Sesuai

Menurut chairman emeritus SSI David Sirota, masa “bulan madu” antara karyawan baru dengan perusahaan tempat mereka pertama kali bekerja tidak menemukan kesesuaian dengan harapan. “Dua tahun pertama bekerja adalah masa ketika karyawan merasa bahwa pekerjaan mereka sesuai dengan harapan, di samping bahwa pengusaha telah membuat mereka percaya selama proses rekrutmen,” kata Sirota.

Namun, sambung dia, sikap dan perilaku manajemen dalam usaha meretensi karyawan, membuat perasaan dan percaya diri karyawan baru berantakan. “Perusahaan sebaiknya invest dalam meningkatkan keterampilan memimpin para menajernya dan menciptakan lingkungan di mana karyawan merasa dihargai oleh atasan mereka,” saran Sirota.

Lebih jauh, menurut analisis yang dilakukan berdasarkan hasil penelitian tersebut, perusahaan-perusahaan dapat meningkatkan retensi karyawan baru dari 10% menjadi 13% dengan menerapkan kebijakan dan praktik manajemen yang lebih efektif. Termasuk, menyediakan pekerjaan yang lebih menantang, jalur karir yang jelas dan kesempatan yang lebih besar untuk berkembang.

Tak kalah penting, pengusaha perlu menciptakan atmosfir di mana staf merasa dihargai dan terjamin melibatkan mereka dalam usaha-usaha menuju kinerja yang baik, mendengar ide-ide mereka dan menjalankannya. Para manajer juga harus mengubah perilaku mereka dan lebih konsisten dengan ucapan dan perilaku mereka.

Tags: