Sampoerna Danai ITB Buka Sekolah Bisnis

Sampoerna Foundation, sebuah yayasan bidang pendidikan milik Keluarga Putra Sampoerna, mendanai Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk membuka sekolah bisnis dan manajemen di Jakarta. Sampoerna School of Business and Management (SSBM) ITB, nama sekolah tersebut, akan memulai pembukaan kelasnya pada 2 Februari 2007.

Menurut Dekan SSBM–ITB Surna Tjahja Djajadiningrat, Ph.D, ide awal pendirian sekolah tersebut memang berasal dari pihak Sampoerna. Yayasan itu mengundang enam perguruan tinggi negeri yang memiliki program magister manajemen (MM) untuk mengajukan proposal. Dan ITB-lah yang terpilih setelah dilakukan evaluasi.

“Penilaiannya gimana saya tidak tahu,” ujar Profesor Naya (63), demikian paggilan akrab ahli ekonomi sumber daya alam dan lingkungan lulusan Universitas of Hawaii tersebut. Yang jelas, mantan Dirjen Pertambangan Umum itu menyambut baik niat tulus Yayasan Sampoerna yang bercita-cita menjadikan SSBM-ITB sekolah bisnis yang kompetitif secara global.

“Kerja sama kami pada dasarnya bertujuan menjadikan sekolah ini sebagai satu lembaga pendidikan bisnis yang bisa berkompetisi secara global, dan dalam waktu sepuluh tahun diharapkan sudah masuk The Best 50 di Asia Pasifik,” tegas mantan asisten dan staf ahli sejumlah menteri itu.

Ketika ditanya mengenai bentuk kerja sama tersebut, Profesor Naya mengungkapkan bahwa komitmen Yayasan Sampoerna tidak berwujud uang tunai. Melainkan, “ Pengembangan kapasitas dan kelembagaan dengan mendanai pengiriman dosen-dosen muda kita ke luar negeri untuk program doktor sekaligus mendatangkan dosen-dosen dari sana, serta memberi ruangan tiga lantai yang sangat mewah ini.”

Ruangan sangat mewah yang dimaksud itu berlokasi di 8, 9 dan 10 Tower B Sampoerna Strategic Square di Jalan Jenderal Sudirman. Profesor Naya juga menegaskan bahwa pihak Sampoerna tidak mengambil imbalan apapun di masa depan. “Ini contoh, menurut saya pribadi, tanggung jawab sosial entrepreneur Indonesia. Kalau semua bisa begini akan sangat bermanfaat,” ujar dia.

Lalu, apa keunggulan SSBM-ITB dibanding sekolah serupa lainnya yang sudah lebih dulu ada? Menurut Profesor Naya, SSBM-ITB akan menekankan aspek yang selama ini kurang mendapat perhatian banyak pihak baik sebagai bangsa maupun organisasi, yakni kepemimpinan. “Warna itu kita coba perkuat.”

Ditambahkan, keunggulan lain adalah dalam metode pengajaran. “Tidak seperti kuliah, tidak menggurui, tapi dengan pendekatan bedah kasus. Dosennya pun bukan guru beneran, tapi dari swasta yang berpengalaman tentang keberhasilan maupun kegagalan dalam kegiatan bisnis, dan kita akan mengundang banyak dosen-dosen asing.”

Dengan pengantar Bahasa Inggris, SSBM-ITB mensyaratkan pengalaman tiga tahun sebagai manajer bagi siapa pun yang berminat. Sejauh ini, ungkap Profesor Naya, pihaknya telah melakukan promosi ke perusahaan-perusahaan dan mendapatkan sambutan yang cukup baik. “Karena ini baru, mereka umumnya bilang, ya udah kita coba. Sudah ada 50 orang yang mendaftar,” ungkap dia.

Biaya kuliah Rp 95 juta untuk 18 bulan masa pendidikan dengan gelar MBA yang dipatok SSBM-ITB diakui Profesor Naya relatif lebih mahal dibandingkan sekolah serupa yang lain. Namun, dia menyakinkan bahwa sekolah yang dipimpinnya akan dikelola dengan nuansa-nuansa global, ditopang staf pengajar yang punya komitmen penuh, sehingga menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat dunia.

Disadari pula, tantangannya memang tidak mudah, bahkan dari awal pihaknya merasa kesulitan meyakinkan lembaga induknya, ITB yang selama ini identik dengan teknologi. “Perlu waktu dan kemampuan untuk meyakinkan ITB bahwa sekolah bisnis dan manajemen itu penting,” kenang dia. Itu belum ditambah dengan komentar miring dan sinis, yang intinya menuding Profesor Naya “menjual ITB dengan harga murah”.

“Saya tegaskan, sains dan teknologi kalau tidak di-link dengan komersialnya juga tidak akan punya makna, yakni bagaimana kita bisa mengaitkan teknologi dengan bisnis. Jadi, keberadaan sekolah ini akan mendukung dan bisa menjadi mitra kerja sama bagi semua fakultas yang ada di ITB,” ujar sarjana Teknik Industri ITB yang pernah mengajar di almamaternya dan UI maupun Unpad tersebut.

Tags: ,