Salah Tweet Perusahaan Bisa Rugi Rp 38 Milyar

Karyawan yang salah menggunakan Twitter atau situs jejaring sosial lain dapat merugikan perusahaan tempat mereka bekerja hingga Rp 38 milyar per tahun (4,3 juta USD).

Demikian hasil polling yang dilakukan Symantec baru-baru ini di Amerika Serikat. Melalui Symantec’s 2011 Social Media Protection Flash Poll itu ditemukan bahwa organisasi bisa kehilangan rata-rata 4,3 juta USD bila karyawan mereka salah menggunakan media sosial.

Sekitar 28% perusahaan mengindikasikan kerugian terhadap citra perusahaan atau hilangnya kepercayaan konsumen karena salah penggunaan media sosial dapat bernilai hingga 638,496 USD.  Lebih dari seperempat responden melaporkan kerugian 184,714 USD akibat kehilangan pada data organisasi, konsumen, dan karyawan.

Satu dari empat perusahaan kehilangan revenue 619,360 USD dari biaya finansial langsung akibat salah penggunaan media sosial. Biaya terbesar yang dibayarkan adalah biaya litigasi, mencapai hingga 650,361 USD, yang dialami oleh 15% responden sementara 16% yang lain melaporkan turunnya harga saham senilai 1,038,401 USD.

Sekitar 94% perusahaan yang disurvey mengatakan menghadapi “semacam konsekuensi negatif” yang berhubungan dengan media sosial, dimana sebagian dari mereka pernah mengalami rata-rata sembilan insiden dalam satu tahun terakhir ini. Insiden itu termasuk rusaknya reputasi, kehilangan kepercayaan konsumen, kehilangan data, dan berkurangnya pendapatan (revenue).

Kekhawatiran terbesar responden menyangkut media sosial adalah: karyawan memberikan terlalu banyak informasi (46%), bocornya informasi rahasia (41%) dan cacatnya reputasi (40%).

Meskipun penuh dengan resiko, perusahaan mengakui bahwa keterlibatan dalam media sosial dapat bermanfaat dan perlu. 80% mengatakan akan mencari jalan keluar dengan mengumpulkan dan menjaga data sensitif, 87% menerapkan kebijakan perusahaan untuk media sosial (social media policy) dan 86% melakukan program training.

Akan tetapi baru kurang dari seperempat responden yang telah mengimplementasikan langkah-langkah di atas.

Greg Muscarella, direktur senior manajemen produk Symantec mengatakan, penting untuk “menjaga dan melindungi” informasi sensitif perusahaan yang mengalir melalui jejaring sosial.

“Training dan edukasi kepada karyawan tentang penggunaan media sosial yang baik untuk kepentingan bisnis sama pentingnya dengan penggunaan teknologi itu sendiri,” ujar Greg seperti dikutip dari majalah Human Resources.

Symantec menyarankan perusahaan harus melindungi dirinya dengan mengambil tindakan spesifik tentang penggunaan media sosial dan melatih karyawan untuk memposting content yang pantas. Perusahaan juga perlu memiliki metode dokumentasi untuk memelihara content media sosial, sekaligus mencegah kehilangan dan kebocoran data.

Tags: