Saatnya Karyawan Bermain Social Media dengan Cerdas

Meskipun banyak perusahaan yang melarang penggunaan social media pada jam kerja, tidak sedikit juga perusahaan yang membebaskan karyawannya untuk bersosial media pada saat jam kerja berlangsung. Variasi keputusan atau kebijakan tersebut berdasarkan karakter tiap-tiap organisasi yang berbeda-beda.

Di antara berbagai kebijakan itu, manakah cara yang paling tepat untuk menyikapi karyawan Anda yang hobi sekali bermain social media? Menurut Steven Van Belleghem dari Social Media Today, perusahaan tidak cukup hanya membuat policy namun yang penting adalah bagaimana perusahaan dapat melatih dan memfasilitasi karyawan untuk menggunakan social media dengan cerdas.

Tugas praktisi HR di perusahaan tidak hanya membincangkan polemik social media di kantornya saja, namun mereka harus bisa mendorong karyawan sehingga kegiatan mereka di social media lebih efektif dan bermakna bagi perusahaan.

Brian Solis dalam buku terbarunya “The End of Business as Usual” telah membuat ringkasan dari beberapa penelitian terkait penggunaan social media di tempat kerja. Salah satunya misalnya, tahun 2010, Wired menerbitkan sebuah laporan dari study Morce PLC yang mensinyalir penggunaan social media pada saat bekerja memakan biaya hingga 2,2 miliar dollar per tahun di perusahaan-perusahaan di Inggris. Penelitian ini menganggap bahwa setiap menit yang dihabiskan untuk bersosial media dihitung sebagai waktu yang non-produktif bagi perusahaan. Sementara sebuah studi lain di Melbourne menunjukkan bahwa karyawan yang menghabiskan waktu istirahatnya di jejaring sosial ternyata lebih produktif dalam bekerja 9% ketimbang yang tidak menggunakan social media.

Ketakutan Perusahaan

Hasil survey tersebut menunjukkan pentingnya menganalisa terlebih dahulu sebuah kebijakan yang akan dibuat sebelum diterapkan di perusahaan. Survey yang menunjukkan bahwa aktivitas social media menganggu jalannya pekerjaan tidak semata-mata membenarkan pelarangan social media untuk karyawan. Perusahaan yang membatasi waktu bersosial media karyawannya seringkali terkurung dengan kebijakannya sendiri, membuat karyawan tidak bebas, dan membatasi “passion” mereka, akibatnya produktivitas boleh jadi menurun. Seperti pernyataan salah satu karyawan perusahaan operator selular, “tidak perlu dibatasi, kita kan sudah tahu mana yang baik dan benar,” ujar Esti yang mengaku tidak ada policy khusus di kantornya. Esti juga mengaku penggunaan social media dengan fasilitas kantor sudah sangat jarang dilakukan mengingat aktivitas tersebut bisa dilakukan dengan telepon selular. Sehingga membatasi karyawan untuk bersosial media hanya buang-buang waktu.

Memberi dan Menerima

Pilihan kedua yaitu membebaskan karyawan ber-socmed juga belum tentu benar. Kebanyakan perusahaan mengizinkan karyawannya bersosial  media tanpa membekali informasi yang jelas apa saja yang bisa disebar di social media. Malah kadang perusahaan mengharapkan karyawannya dapat menjadi brand ambassador perusahaan tanpa pelatihan yang aplikatif. Hal ini hanya sebuah ilusi. Perusahaan sebaiknya membuat peraturan yang jelas, karena hal ini akan mengajarkan karyawan bagaimana mengunakan social media yang diharapkan perusahaan ketika mereka bekerja. Bila harus melakukan pelatihan seperti training social media, sebaiknya cari waktu yang tepat dan pilih materi yang sesuai dengan kemampuan karyawan.

Menurut Ben Norman dari Koozai.com, “ketakutan perusahaan dengan akibat social media jangan berlebihan. Bila Anda percaya bahwa karyawan Anda akan menghancurkan citra perusahaan dan membuat pekerjaan jadi tidak produktif, mengapa Anda mempekerjakan mereka?” Aktivitas bersosial media adalah dampak murni dari semua kegiatan perusahaan, “Ini semua tentang memberi dan menerima, bila membiarkan semuanya berjalan, kita kan mendapatkan peningkatan dan kebahagiaan di tempat kerja,” tambahnya.

Selaras dengan itu, Dian seorang suster di sebuah rumah sakit Tangerang juga menyikapi dengan santai “tak perlu sampai telepon seluler kita disita sementara kita kerja, yang penting karyawan tahu batasan-batasan waktu yang tepat bila mau bersosial media, kita bisa melakukannya dengan cerdas,” ujarnya.

Tags: ,