Revolusi Entrepreneurship Harus Dikumandangkan

Mengurangi jumlah pengangguran telah menjadi program pemerintah setiap tahun. Namun, lapangan kerja baru yang bisa diciptakan melalui pertumbuhan ekonomi tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja yang terus meningkat. Solusinya, diperlukan revolusi entrepreneurship.

Menurut pengusaha terkenal Ciputra, revolusi entreprenuer tidak terbendung lagi. Setiap universitas, kata dia, harus memprogramkan pelajaran wirausaha untuk mendidik menjadi seorang entreprenuer dan perlu ada dana khusus pengembangan entreprenuer dari anggaran pemerintah.

“Pengangguran sarjana sangat mengkhawatirkan,” ujar dia dalam acara Penganugerahan Young Entrepreneurship Awards 2009 yang digelar oleh Bisnis Indonesia bekerja sama dengan Commonwealth Bank di Jakarta, akhir pekan lalu, seperti dilaporkan Bisnis.com.

Pendiri Ciputra Group itu menggambarkan, hanya seorang entrepreneur yang sanggup mengubah kotoran menjadi emas dan dapat mengubah menjadi industri, sehingga memiliki nilai tambah. Entrepreneur-lah yang membedakan Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah dengan misalnya Singapura yang boleh dibilang sama sekali tidak memiliki sumber daya alam.

Ditambahkan, perbankan juga memiliki peran penting dalam menciptakan entrepreneur. Ciputra mencontohkan, perbankan di Australia, Singapura dan negara maju lainnya memiliki modal yang jauh lebih besar dibandingkan dengan perbankan dalam negeri.

Pola Pikir

Ciputra tidak memungkiri usaha pemerintah selama ini yang sedikit menunjukkan kemajuan, tapi pola pikir belum berubah dan belum menjadi mandiri. Oleh karenanya dia mengusulkan agar setiap departemen dan instansi pemerintah mengubah sistem dengan program untuk mengembangkan wirausaha, dengan mendorong pengolahan bahan baku menjadi barang jadi.

Ciputra menegaskan pentingnya pendidikan wirausaha, agar lulusan sarjana dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru. India dan China menjadi negara maju dan memiliki pertumbuhan yang tinggi sekitar 7%-10%, karena kedua negara itu memiliki ruh entrepreneurship.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Negara Koperasi dan UKM Suryadharma Ali menggarisbawahi revolusi entrepreneur, karena salah satu indikasi sebuah negara bisa dibilang maju ditentukan oleh seberapa besar entrepreneur di negeri tersebut. Dia mencontohkan China menjadi negara maju karena memiliki banyak entrepreneur.

Sebelumnya, Departemen Perdagangan memperkenalkan virus K atau kreativitas guna menggalakkan ekonomi kreatif. Selain revolusi entreprenuer, perlu juga ditularkan kepada masyarakat jiwa wirausaha melalui virus E [entreprenuer], sehingga jiwa wirausaha semakin banyak dimiliki masyarakat bangsa ini.Suryadharma menuturkan, pemerintah terus berusaha agar muncul entreprenuer baru antara lain lewat program sarjana pencipta mandiri. “Ini yang kami hayati dalam kehidupan pendidikan kita.

Sarjana tidak mudah untuk banting setir, berbeda dengan lulusan sekolah dasar. Tamatan sekolah dasar, yang nganggur tidak sampai 1 juta orang, tapi lulusan sarjana mencapai 50%.”Suryadharma setuju bahwa untuk menciptakan entrepreneur perlu mengubah pola pikir masyarakat agar memiliki orientasi pada kewirausahaan.

Tags: