Resisten Terhadap Social Media, Ciri Perusahaan Tidak Terbuka

Perusahaan dan khususnya para atasan yang tidak membebaskan social media di lingkungan kerja dinilai gagal menumbuhkan nilai-nilai keterbukaan dan kepercayaan kepada karyawan.

Pernyataan itu merupakan hasil penelitian dari Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD) yang melakukan survey tahunan di London School of Economics.

Interaksi di social media dapat menjadi akses untuk mendapatkan data kualitatif maupun kuantitatif mengenai perusahaan, dan hal itu dapat membantu karyawan dan memberikan insight kepada customer, masih menurut survei CIPD.

Melalui social media karyawan dapat bertukar informasi sekaligus menjadi saluran komunikasi tidak resmi antara klien, partner dan masyarakat di luar perusahaan.

Namun menurut CIPD, para pemimpin senior kebanyakan belum paham mengenai bagaimana social media bekerja dan kekuatan yang dihasilkan dari ribuan data tersebut. Mereka lebih fokus kepada bahaya dari social media dan menyarankan sistem komunikasi yang lebih tradisional.

Sikap ini menurut CIPD membuat perusahaan tetap mempertahankan budaya ‘top-down’ dan mencegah alur hirarki yang lebih transparan.

Padahal social media secara tidak langsung memberikan kesempatan para pemimpin untuk terlibat langsung dengan staff dan klien mereka.  Hal ini juga sebenarnya akan membantu arah masa depan dari organisasi mereka. CIPD menghimbau bahkan mendesak para pengusaha untuk menyadari bahwa media sosial akan menjadi bagian dari era transparansi massa. Bagi pengusaha yang masih belum bisa menerima hal ini mereka akan jauh tertinggal.

John Gifford, Tim Penasihat CIPD mengatakan, bagi organisasi yang sedang berkembang, karyawan harus diberi kesempatan untuk mendiskusikan bagaimana organisasi mereka bisa berinovasi dan mengizinkan mereka mempunyai pandangan yang luas. Serta sebisa mungkin memberikan kebebasan mengeluarkan pendapat termasuk isu-isu yang terjadi di lingkungan kerja mereka.

“Media sosial memang tidak akan selalu menjadi saluran yang tepat untuk membahas isu-isu, namun perusahaan seharusnya menyadari kenyataan bahwa mereka tidak bisa mengabaikannya begitu saja,” jelas Gifford seperti dikutip dari PersonnelToday.

Tags: ,