Rekrutmen yang Buruk Hilangkan Potensi Konsumen

Di tengah maraknya pembicaraan mengenai pentingnya “nama baik” pengusaha dan sulitnya menarik staf berkualitas, terdapat kenyataan yang ironis. Bahwa, seperempat dari kalangan pencari kerja merasa telah diperlakukan buruk oleh calon bos mereka.
Oleh karena itu, pihak pengusaha atau pimpinan perusahaan perlu menyadari bahwa mereka harus peduli dengan para pencari kerja. Jika tidak, sikap buruk itu bisa merusak reputasi mereka dan hubungan bottom line dalam perusahaan.

Riset yang dilakukan Capital Consulting di Inggris menemukan, lebih dari separo (53%) pencari kerja tidak akan membeli produk atau jasa dari organisasi yang memperlakukan mereka dengan buruk. Dan, hampir seperempat tidak pernah membeli lagi produk atau jasa dari perusahaan semacam itu.

Reputasi merupakan hal lain yang dipengaruhi oleh praktik-praktik rekrutmen yang buruk. Hampir sepertiga pencari kerja yang tidak puas, menyebarkan kepada 3-5 orang tentang pengalaman buruk mereka itu. Seperempat lainnya menceritakannya pada lebih dari 6 orang, dan satu dari 10 menceritakannya kepada lebih dari 10 orang. Sisanya, satu persen, melangkah lebih jauh lagi dengan mengungkapkannya di internet, lewat tulisan di blog.

Keluhan lain dari para pencari kerja adalah tentang proses rekrutmen yang minim komunikasi. Separo dari mereka menyesalkan tidak adanya alasan, mengapa mereka tidak diterima. Dan, separo lagi menyebut minimnya feedback setelah interview sebagai sumber utama kekesalan mereka.

Separo dari pencari kerja juga mengalami hal-hal mendasar lain yang kurang menyenangkan dari organisasi, yakni tidak ada pemberitahuan bahwa aplikasi yang mereka kirim telah diterima. Keluhan lain adalah pertanyaan yang bodoh saat wawancara, atau harus menjalani tes-tes yang tidak relevan.

Menurut Direktur Pemasaran Capital Consulting Marisa Kacary, kemalasan para pengusaha menjadi mengherankan sekaligus merepotkan ketika bisnis justru membutuhkan pekerja berkualitas sebanyak sekarang. “Rekrutmen sering mengabaikan kesempatan untuk menguatkan brand bagi konsumen,” ujar Kacary.

“Begitu banyak uang dan perhatian dicurahkan untuk menciptakan strategi-strategi menarik (calon) konsumen, tapi perhatian yang sama tidak diberikan melalui (calon) karyawan,” tambah dia.

“Seperti diperlihatkan hasil riset kami, jika Anda memperlakukan orang dengan buruk selama proses rekrutmen, Anda bisa kehilangan mereka sebagai konsumen dan mereka akan menceritakan kepada orang lain pengalaman buruk dengan organisasi Anda itu.”

Tags: ,