Rekrutmen di Sektor Energi: Kesempatan Besar, Tenaga Kurang

Dibandingkan dengan bidang-bidang industri yang lain, sektor minyak dan gas bumi (migas) selama ini cenderung jarang disentuh oleh generasi pencari kerja. Padahal, kesempatan untuk masuk ke dalam sektor tersebut begitu luasnya.

“Kesempatan kerja terus bertambah, tapi tenaga kerja yang tersedia di pasar tetap, dan pemerintah tidur,” seloroh Direktur PT Bayan Resources Eddyono Salatun menggambarkan situasi permintaan dan penawaran tenaga kerja di sektor energi hingga saat ini.

Eddyono berbicara dalam seminar mini bertajuk “Recruitment Challenge in Energy Sector 2007-2009” yang digelar JAC Indonesia di Menara Cakrawala, Jakarta, Kamis (31/5/07).
“Orang-orang yang berdasi nggak mau (kerja di bidang migas) karena dianggap kerja kasar. Sementara, generasi yang berikut ini lebih suka nongkrong di Citos,” lanjut dia.

Selain Eddyono, forum tersebut juga menampilkan Kasubdit Pengembangan Potensi Dalam Negeri Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Edi Purnomo, Presiden Direktur Elnusa Drilling Service Muhammad Zakie dan Konsultan Senior JAC Spesialis Energi Dally Subagijo.

Menurut Edi Purnomo, kebutuhan SDM bidang migas akan terus meningkat karena pemerintah telah mentargetkan kenaikan 30% produksi migas pada 2009. “Dalam kerangka tersebut, maka diperlukan sinergi, siapa melakukan apa, dalam upaya mengembangkan SDM,” ujar dia.

Edi mengajak semua pihak, baik itu perusahaan, institusi pendidikan, lembaga rekrutmen maupun pemerintah untuk memetakan kebutuhan tenaga kerja di sekotor migas, sampai ke lini yang paling bawah.”Dengan adanya data yang jelas, maka kita bisa mengetahui, apa benar ada demandyang berlebihan, kalau iya di mana?”

Nomor Dua

Berdasarkan pengalaman memimpin perusahaan jasa penunjang bidang migas, Muhammad Zakie melihat selama ini urusan SDM cenderung dipandang nomor dua ketika ada kebutuhan untuk meningkatkan produksi.

“Pertama, yang dipikirkan teknologinya,” kata dia. Kendati demikian, Zakie juga merasakan sulitnya mencari tenaga kerja terutama untuk perusahaan yang berskala kecil. Dia setuju mengenai perlunya data statistik yang lebih kuat, untuk mengetahui pertumbuhan pegawai dan jumlah lulusan yang tersedia.

Sementara, berbicara pada level tenaga kerja yang berpengalaman di atas 5 tahun, Dally mengungkapkan, rekrutmen sekotor migas dewasa ini telah megalami tingkat kejenuhan. “Artinya, sulit memutar orang-orang yang sudah spesialis,” terang dia.

Dia mencontohkan, untuk tenaga driller misalnya, pihaknya memiliki data yang menunjukkan bahwa orangnya “itu-itu juga”. “Ketahuan siapa-siapa orangnya, ada di mana dan berapa harganya kalau dihitung.”

Dalam situasi seperti itu, Dally mencermati, banyak perusahaan yang akhirnya menempuh solusi “pintas” dengan mengambil tenaga dari luar (negeri). Dia sendiri lebih menyarankan agar tenaga kerja yang sudah ada dimaksimalkan potensinya.

Dally juga mengingatkan, kelangkaan tenaga kerja tersebut, jika berlarut-larut dampaknya akan cukup fatal bagi perusahaan karena harga karyawan akan semakin tinggi.

Tags: