Rekrut Strategic Partner, Kunci Sukses UKM

Pengolaaan SDM merupakan masalah yang paling umum dihadapi pengusaha skala kecil dan menengah (UKM) di Indonesia. Kebanyakan pengusaha pada skala ini tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman sebagai seorang manajer human resource (HR). Sehingga, mereka sering melakukan kesalahan dalam perekrutan karyawan terutama pada tiga tahun awal yang menentukan bagi perkembangan perusahaan di jenjang berikutnya.

“Banyak pengusaha skala UKM yang sejak awal melibatkan keluarga sendiri, atau merekrut karyawan murah tanpa mempertimbangkan kompetensi. Dikira itu bisa menghemat biaya, padahal itu justru kesalahan besar. Sebab, bagaimana perusahaan bisa berkembang dan sukses kalau diisi orang-orang yang tidak bisa diandalkan. Malah, perusahaan harus mengeluarkan biaya dan juga membuang waktu untuk memberi pelatihan kepada mereka.”

Demikian diungkapkan Managing Director JAC Indonesia Mariko Yoshihara di hadapan 20 pengusaha skala UKM yang mengikuti seminar Pengelolalan SDM untuk Mikro Bisnis di Sky Business Center, Menara Cakrawala, Jakarta Pusat, Kamis (7/9/06). Mariko mengingatkan, tiga tahun pertama merupakan jenjang yang menentukan sukses tidaknya sebuah UKM di masa mendatang. Sehingga pengusaha harus melakukan langkah yang benar-benar tepat.

“Biasanya, pada tiga tahun pertama, perusahaan menfokuskan diri pada penjualan dan produksi, dan kurang optimal dalam aktivitas marketing dan perekrutan SDM handal,” kata dia. Khusus untuk soal yang terakhir disebut, Mariko justru menekankan betapa pentingnya merekrut karyawan yang bisa dijadikan sebagai strategic partner untuk jangka panjang. “Di sini kuncinya. Justru pada fase awal pembentukan perusahaan inilah, harus dicari SDM yang sudah langsung bisa memotivasi diri dan tak perlu melatih mereka lagi,” kata dia.

Menurut Mariko, SDM yang handal dan berpengalaman sangat diperlukan untuk membentuk pondasi perusahaan, dan menjadikan UKM yang baru didirikan bisa berjalan dengan baik. Posisi yang umumnya dicari pada tahap ini antara lain marketing dan sales serta finance dan accounting. “Carilah orang yang punya attitude, knowledge, skills, values dan communication,” ujar Mariko merinci karakter strategic partner yang dia maksud.

Saat ini, UKM telah menjadi salah satu pilar penting yang ikut menggerakkan roda dunia bisnis di Tanah Air. Dalam catatan Mariko, perkembangan terpesat terjadi sejak 1999. Hingga 1995, jumlah UKM mencapai 45 juta perusahaan dengan pertambahan sekitar 2 juta per tahun. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan mengambil porsi terbesar, yakni sekitar 26,3 juta perusahaan. Di urutan kedua, sebanyak 12,5 juta perusahaan, ditempati sektor perdagangan, hotel, restoran dan jasa.

Kehadiran perusahaan-perusahaan berskala kecil dan menengah ini telah menyerap tenaga kerja sebanyak 78 juta orang dengan pertambahan sekitar 2,9 juta per tahun. Di Indonesia, sebuah perusahaan digolongkan sebagai UKM bila dibangun dengan modal kurang dari Rp 500 juta. Pemilik perusahaan biasanya sekaligus menjadi top management yang menjadi motor penggerak utama jalannya perusahaan. Menurut Mariko, UKM yang baik dan berhasil akan menikmati keuntungan pada tahun keempat.

Tags: