Realisasi PHK Hanya 3,4% dari Perkiraan

Jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia yang terjadi sejak krisis global hingga saat ini sebesar 51.000 orang atau hanya sekitar 3,4% dari perkiraan sebelumnya yang mencapai 1,5 juta orang. Pemerintah pun optimistis bisa sedikit menekan tingkat pengangguran dari 8,3% menjadi 8%.

Demikian disampaikan Menakretrans Erman Soeparno usai pembukaan Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional (2009 di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (12/5/09). “Kalau dulu dengan adanya krisis diperkirakan PHK bisa 1 hingga 1,5 juta orang, tapi per sekarang, laporan yang barusan saya terima, itu hanya 51.000 orang yang di-PHK,” ungkap dia.

Ditambahkan, mereka yang terkena PHK itu pun langsung diberdayakan melalui pengalihan profesi dan pembukaan kegiatan produktif yang didanai stimulus Depnakertrans 2009.  Menurut Erman, PHK di Indonesia memang tidak sebesar di negara-negara lain. Hal ini bisa terjadi karena pemerintah berusaha menjaga momentum, salah satunya dengan stimulus fiskal. “PHK massal itu memang tidak terjadi di negara kita.

Mengapa? Karena momentum kita jaga betul. Jadi dengan demikian, kebijakan pemerintah yang diambil sekarang sudah tepat seperti stimulus dan sebagainya,” papar dia. Angka 51.000 orang yang di-PHK itu sudah termasuk TKI yang dipulangkan dari luar negeri. “Catatannya, ada sekitar 7.800 TKI yang dipulangkan dengan 5.000 di antaranya dari Malaysia,” ungkap Erman seperti dilaporkan Detikcom.

Untuk tingkat pengangguran 2009, pemerintah memilih untuk mempertahankan sebesar 8,4%. Untuk skenario paling optimistis sekalipun, pemerintah hanya berani pasang target 8%. “Diharapkkan 8,3%. Karena momentumnya kan dipertahankan (bukan menekan drastis tingkat pengangguran). Kalau 7% masih berat. Kalau 8% bisalah,” ujar Erman.

Presiden Senang

Kepada wartawan pada kesempatan yang sama, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku senang karena situasi ekonomi nasional pada kuartal pertama 2009 ternyata tidak seburuk ramalan banyak pihak. Namun, ia menegaskan agar pelaku ekonomi tetap waspada dan tidak terlena. “Saya senang karena situasi ekonomi pada kuartal pertama tidak seburuk yang diramalkan, baik dari sisi inflasi, unemployement, ekspor, growth, consumption dan sebagainya,” ujar Presiden.

Lebih jauh, SBY memaparkan sejumlah prioritas langkah ke depan untuk mengatasi krisis yang belum selesai. Yakni:

— Mencegah PHK yang dinilai tidak perlu.

— Menjaga sektor riil dengan memberi insentif dan memberikan kebijakan publik yang mendukung

— Memproteksi masyarakat miskin karena merupakan kewajiban moral.

Tags: