Pribadi Ambivalen Sukseskan Perusahaan

Sifat ambivalen atau mendua ternyata tidak seburuk sangkaan selama ini. Orang-orang yang secara emosional memiliki sifat embivalen terus-menerus memiliki perasaanperasaan positif dan negarif dalam dirinya cenderung lebih kreatif di tempat kerja dibandingkan dengan mereka yang hanya bisa merasakan senang atau sedih, atau tak memiliki emosi sama sekali.

Hal tersebut terjadi karena orang yang memiliki emosi-emosi yang bercampur-baur menafsirkan pengalaman sebagai tanda bahwa mereka berada dalam lingkungan yang tak biasa. Dan, oleh karenanya mereka merespon dengan menuangkannya dalam kemampuan-kemampuan berpikir kreatif.

Demikian studi terbaru yang dilakukan seorang asisten profesor pada University of Washington Business School Christina Ting Fong. Menurut dia, sensitivitas yang terus meningkat terhadap kesadaran pada asosiasi-asosiasi yang tak biasa itulah, yang membimbing kreativitas di tempat kerja. Sedangkan, pekerja yang hanya bisa merasa senang dan sedih tak bisa mendeteksinya.

“Karena kompleksitas sejumlah organisasi, pengalaman di tempat kerja sering mendatangkan emosi-emosi yang campur aduk pada karyawan, dan sering diasumsikan bahwa emosi campur aduk adalah sesuatu yang buruk bagi pekerja dan perusahaan,” kata Fong, yang studinya dimuat di Academy of Management Journal edisi Oktober 2006.

“Daripada mengasumsikan ambivalensi akan membawa pada hasil yang negatif bagi organisasi, para manajer semestinya menyadari bahwa ambivalensi emosional memiliki konsekuensi-konsekuensi positif yang dapat membangkitkan sukses organisasi,” tambah dia.

Hasil riset Fong memperlihatkan bahwa, sementara tidak ada perbedaan antara individu-individu yang periang, pemurung dan “datar”, orang-orang yang secara emosional ambivalen, secara signifikan memperlihatkan kinerja yang lebih baik dalam tugas-tugas kreatif mereka.

“Para manajer yang yang ingin meningkatkan output kreatif dari karyawan mereka mungkin bisa mencontoh upaya-upaya yang dilakukan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang desain seperti IDEO atau Walt Disney, yang dengan bangga menciptakan dan menjaga lingkungan kerja yang tak lazim,” papar Fong.

“Sepeda-sepeda yang didekor menggantung di atap pada kantor IDEO atau ruang-ruang yang colourful dan kasual pada kantor Disney bisa membantu karyawan mereka mengasah kemampuan-kemampuan untuk mendatangkan ide-ide yang inovatif,” sambung dia memperjelas.

Fong mengatakan bahwa dalam studi sebelumnya ia menemukan, perempuan yang duduk di posisi-posisi pengawasan lebih cenderung ambivalen secara emosional ketimbang perempuan dalam posisi yang berstatus di bawahnya. Dikombinasikan dengan hasil studi terbarunya kali ini, menurut Fong, perempuan dengan posisi berstatus tinggi akan menjadi manajer-manajer yang lebih kreatif.

Tags: