Praktisi HR Cemaskan Masa Depan karena Gaya Kerja Gen Y

Salah satu kekhawatiran terbesar para manager HR di seluruh dunia saat ini adalah mempertahankan karyawan Gen Y, yaitu para pekerja berbakat di bawah usia 30 tahun.

Demikian hasil laporan terbaru dari Sekolah Bisnis Ashridge di Inggris. Laporan tersebut menemukan bahwa frekuensi lamanya bekerja yang berubah-ubah dan kurangnya keterampilan yang acap kali dialami para Gen Y nantinya akan menjadi kelemahan mereka saat menduduki jabatan penting atau menjadi pemimpin. Para manajer tersebut memprediksikan bahwa mereka (Gen Y) akan kurang tegas menimbang resiko dan membuat keputusan yang efektif.

Menurut sebuah Laporan Culture Shock yang menganalisa “hubungan generasi Y, di mana barisan Gen Y didefinisikan sebagai pekerja di bawah usia 30 tahun, dengan para pemimpin mereka di dunia,” Gen Y telah tumbuh di lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka datang ke tempat bekerja dengan keterampilan yang berbeda, dapat dimotivasi dengan cara yang berbeda, berpikir beda mengenai Learning and Development dan Hubungan kerja yang berbeda pula.

Laporan ini melanjutkan bahwa Gen Y menginginkan karir yang bervariasi, hanya mempunyai sedikit kesabaran dan akan meninggalkan pekerjaannya dalam skala cepat jika perusahaan tidak memenuhi passion atau penyaluran aktualisasi diri mereka. Laporan ini juga menunjukkan bahwa Gen Y cenderung akan meninggalkan pekerjaan mereka dalam jangka waktu 2 tahun.

Di Inggris, hanya 57% yang berniat untuk tetap bertahan di pekerjaan mereka saat ini, sementara di India 62% dan 75% di Timur Tengah. Karyawan di Malaysia yang paling setia, 87% karyawan menyatakan akan tetap bertahan di tempatnya bekerja.

Laporan Ashridge juga menemukan bahwa meskipun para manajer mengagumi kecerdasan dan enerji muda mereka, namun mereka tidak menyukai sifat para lulusan muda yang mengejar ketenaran dan pengakuan, fokus terhadap diri sendiri, terlalu percaya diri, kurangnya bakat team work dan respek terhadap orang lain.

Berdasarkan laporan tersebut para manajer yakin bahwa para lulusan baru ini kekurangan ‘life skills’ dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka menyarankan para Gen Y itu untuk menambah pengalaman kerja dan mengembangkan kecerdasan emosional, komunikasi dan keterampilan menghadapi orang lain.

Sebuah ketidaksepahaman antara para manajer dan Gen Y tersebut menjadi masalah tersendiri. Salah satunya dalam hal ekspektasi.  66% manajer di Malaysia mengklaim bahwa mengelola ekspektasi para lulusan baru itu menjadi perhatian utama mereka. Dimana Gen Y mempunyai ekspektasi yang tinggi mengenai tanggung jawab, kemajuan, tantangan, pekerjaan menarik di mana mereka bisa melakukan perubahan. Sedangkan para manajer mengharapkan keterampilan yang tinggi, kerja tim dan adaptasi dengan organisasi. Lulusan baru menginginkan promosi jabatan yang cepat, dan jika mereka tidak menemukan hal yang sesuai dengan harapan mereka, maka mereka akan berpindah kerja ke tempat lain.

Menurut survey, pekerja muda lebih menginginkan “bekerja untuk hidup” dibandingkan “hidup untuk bekerja.”

Laporan tersebut mengklaim bahwa bagi Gen Y, usia 30 adalah usia 20 yang baru. Mereka menikmati masa-masa usia 20-an untuk eksplorasi pekerjaan dan mencari keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan. Para manajer terlihat kelelahan melewati beban kerja yang berat. Dalam pencarian pekerjaan, Gen Y memiliki prioritas berbeda. Mereka tidak ingin pekerjaan manajer mereka terutama gaya hidup para manajer.

Sue Honore seorang peneliti dari Sekolah Bisnis Ashridge  mengatakan, “Gen Y bertumbuh bersama dengan X-Factor, Facebook dan telepon genggam serta dilatarbelakangi dengan perubahan teknologi yang cepat dan pergeseran politik serta norma budaya.”

“Profesional muda saat ini memiliki prioritas yang berbeda dari generasi sebelumnya. Gen Y sudah secara radikal merubah dunia kepegawaian dan sebuah tenaga kerja baru yang sedang berkembang akan segera melangkah dan menantang gaya tradisional di dalam perusahaan.”

“Dengan memanfaatkan kontribusi dan kekuatan generasi ini, tenaga kerja yang lebih baik dapat tercipta. Seluruh generasi butuh untuk melihat perbedaan mereka dan mencari cara baru untuk bekerja di masa depan. Para manajer dan Gen Y perlu beradaptasi terhadap perubahan dunia pekerjaan.”

Laporan ini berdasarkan pada survey global dari 2.900 manajer dan lulusan baru serta 100 wawancara yang dilakukan antara Juni dan Oktober 2012.

Tags: