PortalHR Gelar Seminar Pertama di Indonesia: Social Media and HR

press con

SEIRING dengan perkembangan jaman, maka organisasi dan praktisi Human Resources (HR) menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dan perubahan drastis. Tantangan yang paling terlihat dipicu oleh semakin berkurangnya berbagai sumber daya alam (natural resources), mulai dari minyak, batubara dan berbagai sumber energi lainnya serta hutan, lahan pertanian dan tanaman pangan lainnya. Perubahan-perubahan ini, nyatanya belum secara optimal disikapi oleh perusahaan untuk menggerakkan semua insan yang berada di dalam organisasi di dalam upaya untuk dapat melakukan langkah-langkah nyata dan melakukan inovasi-inovasi di dalam berbagai hal agar dapat lebih berhemat.

Dengan perubahan yang terus bergerak inilah, organisasi dituntut untuk bisa lebih efektif dan efisien dalam menjalankan roda aktifitasnya, mengurangi aktifitas kerja yang kurang perlu, mengurangi meeting-meeting konvensional, menciptakan waktu kerja kantor yang lebih ringkas, hingga kemungkinan untuk menerapkan telecommuting office, di mana karyawan bisa bekerja secara jarak jauh.

Wacana ini bukan tanpa alasan. Melalui kemajuan teknologi yang makin canggih, internet provider yang semakin luas jaringannya dan semakin bagus kualitasnya, ditambah dengan program-program pemerintah yang akan memperluas jaringan internet hingga ke pelosok desa-desa di seluruh Indonesia, tentu saja hal ini akan mengubah cara pandang yang sangat berbeda terhadap dunia kerja. Infrastruktur ini diharapkan membuat komunikasi yang berkualitas, karena dengan adanya komunikasi yang cair dan lancar, diharapkan menghasilkan respon yang cepat dan tepat. Sehingga persoalan-persoalan yang ada di organisasi tidak lagi menumpuk karena rumitnya birokrasi dan jenjang hierarki yang hanya akan membuat keputusan terlalu lama untuk diambil.

Masuknya Gen X dan Y di organisasi juga telah membawa warna tersendiri. Bahkan topik Gen Y kini menjadi bahasan hangat di hampir semua negara di belahan dunia mana pun, di mana generasi ini bisa ditandai sebagai pribadi yang gadget minded, mobility yang tinggi, sangat dekat dengan berbagai kemajuan teknologi yang terbaru serta memiliki cara berpikirnya dan behavior yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Kompleksitas mengelola Gen Y dalam organisasi, kalau saja tidak ditangani secara serius, bisa jadi akan menimbulkan masalah. Mulai dari terjadinya gap dengan generasi-generasi sebelumnya (baby boomers dan X), kontinuitas leadership, preferensi dan perbedaan perlakuan terhadap pemberian compensation and benefit program, bergesernya prioritas terhadap pandangan akan long-life employment, hingga belum adanya aturan yang jelas mengenai kebijakan dan aturan untuk berkatifitas di social media di organisasi.

Malla Latif, CEO PortalHR, dalam press conference di Cigar Lounge, Ritz Carlton Hotel-Pacific Place, Jakarta, Jum’at (13/4/2012), menjelaskan bahwa PortalHR hadir untuk membantu organisasi di Indonesia berproses melalui tantangan-tatangan diatas. Keberadaan N. Krisbiyanto, Human Resources Strategies, serta Nukman Lutfie, Online Strategies sebagai Senior Partners memberikan warna dan kompetensi unik bagi PortalHR. Kombinasi ini pula yang membuat PortalHR kini mampu menyasar tidak hanya praktisi HR namun praktisi bisnis yang paham akan pentingnya pengelolaan karyawan.

Menurut Malla Latif, PortalHR selalu berusaha menjembatani dan mengenalkan social media pada praktisi HR di Indonesia. Tidak dipungkiri, saat ini social media masih dianggap musuh yang membuat produktifitas karyawan menurun. Padahal dengan penanganan dan strategi yang tepat, karyawan justru bisa lebih memberikan berbagai kontribusi positif, bahkan mendongkrak branding perusahaan di online dan memenangkan kompetisi. Jadi cara paling tepat bagi praktisi HR bukanlah memusuhi, namun justru mengarahkan karyawan agar dapat bersosial media dengan bijaksana. Social media dapat dimengerti melalui “experiencing”, dan tidak ada cara bagi praktisi HR untuk memahami fenomena yang dialamai karyawannya, kecuali juga merasakan sensasi bersosial media.

Nukman Lutfie, Senior Partner PortalHR membenarkan bahwa social media kini sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari bagi masyarakat kita. “Mereka sibuk dengan facebook, mereka asyik dengan twitter, dan mereka tidak bisa lepas dari parangkat mobile. Bagi banyak perusahaan, ada yang menganggap ini sebagai peluang dan ada pula yang menganggap sebagai ancaman. Orang HR kebanyakan menganggap social media sebagai ancaman, kenapa?” ujar Nukman.

Nukman pun menyebut ada dua alasan. Pertama adalah persoalan produktivitas karyawan yang menurun setelah mereka menggunakan social media. Kedua, tersebarnya informasi-informasi rahasia perusahaan yang seharusnya tidak boleh keluar ke manapun. “Sementara bagi karyawan, social media masih dianggap sebagai ruang privat, di mana mereka menganggap boleh ngomong apa saja, mulai dari apa yang di konsumsi hingga ke masalah-masalah pekerjaan tanpa mereka sadari,” tutur Nukman.

Oleh karena itulah, lanjut Nukman, wajar jika kemudian banyak perusahaan menganggap social media sebagai ancaman. Padahal menurutnya tidaklah demikian. “Malahan, jika perusahaan bisa memaksimalkan social media maka perusahaan tersebut telah memegang kunci dalam era kompetisi di masa mendatang, di mana konsumen tidak bisa lepas dari gadget dan social media,” katanya.

N. Krisbiyanto, Senior Partner PortalHR yang sekaligus Chairman PortalHR Summit 2012 memberikan contoh terobosan-terobosan di area social media dan HR. Misalnya saja, saat ini seharusnya employee opinion survey tidak melulu dilaksanakan setahun atau dua tahun sekali, karena sebenarnya dengan bantuan teknologi, seorang CEO bisa kapan saja melihat dashboard untuk memantau performance maupun memantau kondisi “cuaca” suasana batin dari karyawannya. Di sinilah, diperlukan tools yang terintegrasi untuk mengukur climate karyawan maupun organisasi. Dalam berbagai tulisan mengenai kepuasan pelanggan didapatkan suatu korelasi yang erat bahwa usaha untuk menghasilkan kepuasan pelanggan haruslah berangkat dari mengupayakan kepuasan karyawan terlebih dahulu.

Berangkat dari persoalan inilah, PortalHR (www.portalhr.com), pelopor media informasi online tentang human resource, menyelenggarakan PortalHR Summit 2012 pada 17-18 April 2012, di Ballroom Ritz Carlton-Pacific Place, Jakarta. Seminar ini merupakan pertama kali di Indonesia yang mengangkat tema: Social Media and HR, lengkap dengan inovasi HR lainnya.

PortalHR Summit 2012 sengaja dibuat dalam dua model. Pertama adalah seminar dua hari, yang menyasar para pimpinan dan pelaksana. Kedua adalah Gala Dinner, yang terbatas untuk eksekutif serta para direktur. Dengan format demikian, diharapkan isu yang diberikan dalam acara PortalHR Summit 2012, dapat didiskusikan oleh semua lapisan di organisasi dan memperlancar eksekusi.

Dalam seminar dua hari ini akan mengevaluasi bahwa organisasi kini telah menghadapi tantangan yang sangat berbeda. “Memang di ajang PortalHR Summit 2012 ini, tidak akan menjawab semuanya, tapi melalui event ini paling tidak akan menjawab 4 hal pokok,” katanya.

Pertama, jelas Krisbiyanto, akan diperkenalkan sebuah software enterprise social media. PortalHR bekerjasama dengan Binus Enterprise, dengan bangga meluncurkan software yang merupakan karya anak bangsa, di mana dengan software ini karyawan dapat melakukan interaksi secarai real time melalui berbagai fasilitas social media yang terkini seperti chatting, files sharing, knowledge sharing, bahkan picture sharing. “Software tersebut saat ini masih dalam tahap prototipe namun sudah memiliki fitur yang lengkap. Ke depan, melalui versi advance akan menghadirkan video streaming yang bisa dioptimalkan untuk keperluan yang lebih besar di organisasi,” terangnya.

Krisbiyanto menambahkan, bahwa kalau dulu kompetensi kebanyakan diukur oleh orang-orang SDM, sekarang kompetensi bisa dilihat secara lebih luas. Seorang karyawan dapat ‘dipotret’ secara lebih luas dan lengkap prestasi maupun kompetensinya melalui berbagai jejak aktifitas social media yang dilakukan di dalam organisasi, sesuatu yang mungkin kadang terlewatkan melalui penelusuran kompetensi dengan cara-cara yang konvesional. Rekam jejak prestasi dan kompetensi ini akan dipandang lebih fair dan akurat karena pemberian pengakuan akan datang dari lingkungan kerjanya secara lebih terbuka.

“Kekuatan dari software ini bisa membangun media reporting, di mana topik-topik yang ramai dibicarakan atau menjadi trending topic yang berkaitan dengan masalah HR maupun non HR dapat disimpulkan dan bahkan lebih jauh lagi didata secara statistik, sehingga seorang CEO akan mendapatkan informasi yang akurat, non-birokrasi dan yang penting adalah realtime. Hal ini jelas menghindarkan organisasi dari laporan-laporan yang bersifat ABS (Asal Boss Senang) karena semua karyawan di lapisan organisasi dapat secara bebas memberikan masukan secara bertanggung jawab.

Hal kedua, sesuai dengan tema seminar bahwa belajar kini bisa dimana saja. “Lebih jauh lagi increasing knowledge tidak semata-mata menjadi tanggung jawab perusahaan, tapi karyawan harus bertanggungjawab terhadap diri sendiri. Untuk itulah kami telah merintis diterbitkannya professional card, bekerjasama dengan salah satu bank pemerintah terbesar, yang akan memberikan kemudahan pembiayaan terutama untuk keperluan edukasi, mengikuti training, seminar, sertifikasi, akreditasi maupun untuk melanjutkan study. Bersama kita akan menyebarkan ide, “Self-Development is a New Life-Style”, imbuh Krisbiyanto.

Ketiga, menyadari bahwa standarisasi edukasi dan training belum dilakukan terutama di area human resources, padahal pembenahan masalah-masalah HR di organisasi tentunya harus dimotori oleh praktisi-praktisi HR yang memiliki kualitas dan kapabilitas yang memiliki standar professional. “Bagaimana manajemen bisa membenahi msalah manajemen HR di organisasinya kalau orang SDM-nya tidak memiliki kapabilitas yang profesional?”

Krisbiyanto berujar, “Kami menawarkan standarisasi human resources, sertifikasi dan ke depan akan dilengkapi dengan akreditasi. Selain itu semua, kami akan memberikan awarding kepada insan-insan human resources yang berprestasi maupun menginspirasi baik skala nasional maupun internasional”. Untuk itu PortalHR melalui lembaga konsultannya People Consulting telah bekerjasama dengan SHRI (Singapore Human Resources Institute) untuk menyelenggarakan berbagai sertifikasi dan akreditasi di bidang Human Resources maupun non Human Resources. Kedepannya People Consulting dan SHRI akan terus menerus memperbanyak berbagai sertifikasi dan akreditasi yang dibutuhkan oleh organisasi di Indonesia.

Keempat, lanjut Krisbiyanto, akan dilakukan pengenalan suatu sertifikasi standar, terutama menyasar kepada para Gen Y. “Dimulai dengan melengkapi standar kompetensi terhadap siswa-siswa SMK. Siswa SMK Indonesia adalah contoh paling nyata dari Generasi Y nasional yang sangat potensial dan sangat dibutuhkan dan diharapkan oleh organisasi bisnis di Indonesia untuk dapat mengisi dan bahkan menciptakan lapangan kerja di Indonesia. Untuk itu PortalHR melalui lembaga People Consulting saat ini sudah melakukan program training kepada beberapa siswa dari SMK Pekalongan. Outputnya, anak-anak muda ini akan memiliki kemampuan untuk membangun dan menemukan energi terbarukan. Hebatnya training ini didasari dengan standard-standard internasional,” tutur Krisbiyanto lagi.

Sesuatu yang baru, lanjut Krisbiyanto, juga akan dihadirkan dalam seminar PortalHR Summit. “Kami akan mencoba melakukan webinar, yakni seminar yang bisa diikuti melalui live video streaming. Ada beberapa sesi yang bisa diikuti secara gratis, di mana kami ingin menghadirkan pengalaman teknologi yang bisa diekplorasi untuk keperluan edukasi,” ujar Kris sambil menambahkan webinar bisa disaksikan melalui situs www.portalhr.com.

Acara PortalHR Summit 2012 makin dilengkapi dengan Gala Dinner dan Executive Session yang akan dilaksanakan pada 18 April 2012 malam hari dengan menghadirkan Menteri BUMN RI, Dahlan Iskan. Menurut Krisbiyanto, alasan menghadirkan sosok Dahlan Iskan karena Dahlan dikenal sebagai sosok yang concern dengan action untuk melakukan melakukan transformasi secara cepat melalui contoh-contoh dan tindakan nyata di dalam menuntaskan berbagai persoalan BUMN Indonesia.

“Kita akan belajar untuk walk the talk, yang bisa mencontohkan bagaimana seharusnya pemimpin senantiasa berpikir secara real time, inovatif, terbuka dengan berbagai kemajuan teknologi yang terkini, serta menghargai semua opini dari mana saja datangnya. Dan Indonesia yang memiliki banyak sekali persoalan harusnya memiliki banyak pemimpin seperti ini,” tukas Krisbiyanto. (*)

Tags: , , ,