Pola Pikir SDM Indonesia Harus Dirombak

Sudah saatnya pola pikir sumber daya manusia (SDM) Indonesia dirombak. Saat ini bukan “musimnya” lagi bagi para lulusan perguruan tinggi untuk berbondong-bondong mencari dan melamar pekerjaan. Yang harus dilakukan bahkan sejak sebelum lulus kuliah adalah mencari peluang bisnis.

“Kalau Anda cari bisnis, pekerjaan sudah pasti dapat. Tapi, kalau Anda cari pekerjaan, belum tentu dapat (diterima),” ujar Presiden Direktur Enterpreneur College A Khoirussalim Ikhs dalam obrolan dengan portalhr.com di Jakarta.

Dalam pengalaman Khoerussalim, semua orang yang hendak memulai bisnis terkendala oleh masalah modal. Padahal, menurut dia, modal bukanlah hal yang utama dalam berbisnis. “Kalau Anda masih mengatakan bahwa bisnis harus menggunakan modal uang, Anda masih (berpikir) dengan otak kiri,” ujar dia.

Orang yang masih berpikir dengan otak kiri, demikian dalam pandangan Khoirussalim, akan mengatakan berbisnis itu sulit, karena langsung dihadang dengan pertanyaan tentang modal. “Padahal, saya yakin, kalau diberi modal belum tentu bisa bisnis, uang belum tentu selamat. Artinya, masalahnya bukan di modal, tapi di skill,” tandas dia.

Khoirussalim menyarankan, untuk bisa memulai sebuah bisnis, kemampuan otak kanan yang seharusnya dipakai. “Itu mengharuskan kita terjun langsung ke lapangan,” kata Sarjana Filsafat lulusan UGM yang kini menjadi Direktur PT Country Lestari yang memproduksi donat dengan merek Country Donuts itu.

Sekjen Asosiasi Pengusaha Waralaba Indonesia (APWI) itu menyayangkan sistem pendidikan di Indonesia yang dalam istilah dia sangat mengagungkan pendidikan berbasis otak kiri. Hemat dia, sistem semacam itu gagal menghasilkan generasi yang kreatif.
“Hasilnya adalah generasi penakut dan tak berani dengan risiko. Makanya orang selalu bilang bisnis itu sulit, karena nggak ada modal, itu otak kiri,” kata dia.

“Coba Anda baca biografi orang-orang hebat, nggak ada yang mengatakan modal itu sebagai penentu atau hal yang paling utama, harus dimiliki (dalam berbisnis). Semua pebisnis hebat mengatakan, modal utama bukan uang, tapi kepercayaan, dan itu sesuatu yang ada di dalam otak bawah sadar, ada dalam hati, tempat di mana perasaan kemampuan, ketawakalan, ketekunan itu ada di situ. Sehingga modalnya orang bisnis ya itu, tekun, rajin, disiplin, kerja keras, bukan modal uang.”

Mengubah Mind Set

Menurut Khoirussalim, pola pikir semacam itu bisa diubah dengan pelatihan. “Persoalannya hanyalah, orang tidak terbiasa menggunakan otak kanan, jadi yang harus dilakukan ya mengubah mind set. Dari mind set pekerja menjadi enterpreneur atau wirausaha yang berani mengambil risiko untuk berbisnis, dari mind set menerima gaji menjadi memberi,” tutur dia.

Ditambahkan pula, mind set kerja sedikit dapat banyak juga harus diubah. “Ndak ada konsep seperti itu, ingin enak ya kerja keras, bisnis itu begitu, balance, apa yang Anda keluarkan dan apa yang Anda peroleh itu sama. Jadi, kalau saya umpamakan, kalau ingin dapat lele, cukup modal cacing. Ingin memperoleh gaji tetap, ya cukup jadi karyawan. Ketika Anda ingin memperoleh buaya, siapkan umpan kelinci, kambing. Bisnis itu begitu, risiko besar memperoleh hasil yang besar.”

Tags: ,