Perusahaan Tak Maksimalkan “Skill” Karyawan

Separo dari karyawan merasa bahwa keahlian yang mereka miliki tidak sepenuhnya dimanfaatkan oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Dan, 10% karyawan ditempatkan di posisi baru tanpa memperhitungkan keterampilan mereka.

Demikian hasil riset yang dilakukan oleh lembaga rekrutmen dan layanan HR Randstad di Inggris dalam kaitan dengan dampak resesi.

Kabar gembiranya, sebagai akibat dari kosongnya aktivitas rekrutmen di perusahaan selama masa sulit, 23% karyawan mendapatkan pelatihan untuk menambah skill mereka dalam 18 bulan terakhir.

Namun, survei menemukan adanya perbedaan pendapat antara perusahaan dan karyawan mengenai isu-isu yang dianggap penting.

Para karyawan menyebutkan, bahwa faktor-faktor penting yang membuat mereka tetap tinggal di perusahaan meliputi tingkat remunerasi, pelatihan dan pengembangan, jalur karier yang bagus dan kondisi-konsidi kerja yang fleksibel.

Sementara, dari sisi pengusaha, faktor-faktor penting yang membuat karyawan betah adalah brand perusahaan itu sendiri serta budaya dan paket benefit yang ditawarkan.

Kendati demikian, survei juga menemukan bahwa seperempat dari karyawan yang “kerasan” tadi mengaku akan mempertimbangkan untuk pindah jika memang ada tawaran yang lebih atraktif.

Oleh karenanya, Randstad memperingatkan bahwa perusahaan berada dalam risiko kehilangan SDM terbaik jika mereka tidak mengembangkan “pemahaman bersama”.

Direktur Randstad Inggris Brian Wilkinson mengatakan, “Bagi perusahaan, akan lebih menguntungkan jika bisa menyeimbangkan antara investasi untuk mempertahankan staf terbaik dan meminimalkan total biaya tenaga kerja dengan membangun strategi-strategi yang lebih fleksibel.”

“Sambil fokus pada manajemen atas kondisi-kondisi hari ini, organisasi perlu memastikan agar tidak kehilangan wawasan akan tren-tren jangka panjang, terutama dalam hal ini menyangkut kelangkaan skill di masa depan,” tambah dia.

Laporan “The World of Work” 2010 merupakan kompilasi dari sejumlah studi yang dilakukan Randstad, termasuk Workmonitor Mobility Index yang mensurvei 800 karyawan di Inggris.