Perusahaan Semakin Sulit Mendapat Karyawan dengan “Critical Skill”

Menjelang akhir tahun, banyak hal yang harus dikoreksi guna memastikan bahwa organisasi masih bisa bertahan, atau bahkan memenangkan persaingan. Hasil survei berikut ini, “The Towers Watson Global Talent Management and Rewards Survey”yang dilakukan pada akhir April sampai awal Juni 2012, bisa menjadi salah satu tolok ukurnya.

Hasil survei tersebut, dibahas dalam sebuah acara bertajuk “2012 Talent & Rewards Seminar” yang diselenggarakan oleh Towers Watson Indonesia, perusahaan global professional services di Jakarta, Rabu (28/11/2012).

Materi pokok yang dibahas dalam seminar ini memang diangkat dari The Towers Watson Global Talent Management and Rewards Survey yang melibatkan 1.605 perusahaan di seluruh dunia, termasuk 796 dari Asia Pasifik dan 52 dari Indonesia. Ada dua klasifikasi, yakni pertama Asia Pasifik negara maju yang diikuti 289 peserta dari Australia, Hong Kong, Jepang, Korea, Singapura dan Taiwan. Kedua, Asia Pasifik Negara berkembang yang diikuti 507 peserta dari Cina, India, Indonesia, Malaysia,Filipina, Thailand dan Vietnam. Para peserta mewakili berbagai industri dan berasal dari berbagai area geografis.

Menariknya dari hasil survey tersebut, sebagian besar perusahaan di Indonesia harus berjuang keras untuk mendapatkan dan mempertahankan karyawan potensi tinggi (high potential) dan memiliki keterampilan kritikal (critical skill) yang diperlukan untuk meningkatkan daya saing global mereka.

Studi ini menemukan bahwa 85% dari perusahaan di Indonesia menyatakan bahwa mereka memiliki masalah dalam menarik (attracting) karyawan dengan keterampilan kritikal, dan lebih dari 88% mengalami kesulitan mendapatkan karyawan dengan potensi tinggi. Angka ini terbilang tinggi jika dibandingkan dengan angka global sebesar 71% dan 60% di masing-masing kriteria.

Persoalan mempertahankan (retaining) karyawan memang menjadi sebuah tantangan di Indonesia. Buktinya, sebesar 78% dari perusahaan mengaku kesulitan untuk mempertahankan karyawan dengan keterampilan kritikal, sementara 74% perusahaan menemukan kesulitan untuk mempertahankan karyawan dengan potensi tinggi.

“Permintaan untuk karyawan kunci atau key talent masih tinggi seperti sebelumnya, sejalan dengan kondisi ekonomi dan persaingan global semakin meningkat. Kami menemukan bahwa banyak perusahaan yang terjebak dalam masalah mendapatkan, mempertahankan dan mengikat karyawan dengan key talent, karena tidak melakukan penawaran value proposition, lingkungan kerja dan program total rewards yang dianggap penting oleh mereka,” demikian menurut Awaldi, Director of Talent and Rewards di Towers Watson Indonesia.

Awaldi menambahkan, bahkan tampaknya ada ketidaksesuaian antara apa yang ditawarkan perusahaan dengan yang dicari karyawan. Menurut survei, karyawan di Indonesia lebih menyukai lokasi kerja yang nyaman, kesempatan belajar dan benefit kesehatan. Sementara di sisi lain, perusahaan lebih menekankan pada hal-hal yang berbeda, seperti reputasi perusahaan, bonus dan perkerjaan yang menantang.

Untuk mempertahankan talent yang ada, lanjut Awaldi, perusahaan tampaknya perlu memiliki pemahaman yang lebih baik dan selaras dengan harapan karyawan. Menurutnya, ada tiga hal yang menjadi pendorong utama yaitu kompensasi, hubungan dengan atasan mereka dan peluang karir.

Dalam ekonomi global yang tidak menentu, dimana perusahaan menghadapi tekanan kuat untuk mengendalikan biaya dan di saat yang bersamaan meningkatkan kinerja perusahaan, tidaklah mengherankan bahwa perusahaan mengharapkan kinerja yang tinggi dari karyawan mereka. “Namun, survei mengungkapkan bahwa penghargaan tidak selalu sejalan dengan tuntutan kinerja yang lebih tinggi. 54% perusahaan mengindikasikan bahwa kinerja individu meningkat, namun demikian jumlah perusahaan yang memberikan peningkatan bonus hanya 38%,” jelas Awaldi.

Awaldi meneruskan bahwa studi paling anyar dari Towers Watson ini juga menemukan bahwa karyawan mengalami tingkat stres yang tinggi di tempat kerja. Hampir setengah (49%) dari responden di Indonesia menunjukkan bahwa karyawan sering mengalami tekanan yang berlebihan dalam pekerjaan mereka.

Lebih gawat lagi, hanya 36% dari karyawan di Indonesia yang benar-benar engage di tempat kerjanya. “Ini menandakan titik kritis dan perusahaan perlu mengambil langkah-langkah konkret dan menjaga keseimbangan yang tepat antara keinginan dan kebutuhan karyawan, dengan membangun employee value proposition yang mampu menarik dan mempertahankan karyawan yang talented dan dengan keterampilan kritikal, sementara di saat yang bersamaan juga melibatkan seluruh tenaga kerja,” tambahnya.

Sementara itu Lilis Halim, Consulting Director Towers Watson Indonesia, mengatakan bahwa perusahaan pada dasarnya harus tetap meningkatkan kinerjanya, dan pada saat yang bersamaan juga harus mengurangi penggunaan bahan bakar yang menggerakkan mesin organisasi. “Meminta karyawan untuk bekerja dalam kondisi ini secara berkelanjutan adalah tidak baik buat karyawan maupun perusahaan itu sendiri. Kami sudah melihat kesenjangan yang signifikan dalam pemerdayaaan kemampuan yang efektif dalam mencapai kinerja yang diharapkan dengan energy dan antusiasme dari karyawan untuk bekerja lebih baik lagi dimana keduanya merupakan faktor penting dalam menopang engagement yang berkelanjutan,” katanya. (*/@erkoes)

Tags: