Perusahaan Kurang Mencintai Karyawan Tua

Karyawan berusia tua yang berharap bisa memperpanjang masa kerja 2 sampai 4 tahun lagi dari usia pensius mereka, agaknya hanya akan bisa gigit jari. Dari penelitian ditemukan, kebanyakan perusahaan tak memiliki program apa-apa lagi untuk mereka.

Manpower Inc. dan Pusat Penelitian Pensiun Boston College mengungkapkan, hanya 21% dari 28 ribu perusahaan yang disurvei di seluruh dunia yang memiliki peta strategi yang jelas untuk mempertahankan karyawan lanjut usia. Selebihnya, kedua lembaga tersebut mendapati, umumnya kaum pengusaha hanya “hangat-hangat kuku” terhadap ide tersebut.

“Cara terbaik meng-attract dan me-retain karyawan berusia tua adalah dengan menyediakan pekerjaan yang mereka inginkan, dan apa yang mereka inginkan adalah fleksibilitas, pekerjaan-pekerjaan paroh waktu yang menarik,” ujar CEO Manpower Jeffrey Joerres.

Retensi dan Strategi Rekrutmen

Jepang dan Singapura berada di barisan depan dalam rencana-rencana untuk mempertahankan karyawan berusia tua, dengan 83% dan 53% kaum pengusaha di masing-masing negara memiliki strategi-strategi retensi.

Manpower menduga, aturan hukum dan program-program insentif di kedua negera tersebut ikut mendukung dengan mempromosikan “keharusan” meretensi dan merekrut karyawan berusia tua yang dalam definisi Manpower 50 tahun ke atas.

Sebagai bandingan, di Italia dan Spanyol, hanya 6% perusahaan yang mempunyai rencana-rencana untuk meretensi karyawan tua. Dan, dari 1000 pengusaha di Amerika yang diteliti, 28% memiliki strategi retensi formal terhadap karyawan tua.

Sementara, untuk urusan merekrut tenaga kerja berusia lanjut, angka-angka yang didapat juga tak lebih menggembirakan. Dari 25 negara yang disurvei, hanya 19 negara yang kaum pengusahanya memiliki strategi untuk merekrut karyawan tua. Di Jepang, hanya 12% perusahaan yang memperhatikan karyawan tua untuk direkrut. Di AS, angkanya hanya 18%.

Faktor-faktor

Manpower Inc. dan Pusat Penelitian Pensiun Boston College menyebut faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan perusahaan untuk mengambil atau tidak strategi-strategi dalam merentensi dan merekrut karyawan tua, antara lain:

– jumlah tenaga kerja secara nasional

– profil demografik tenaga kerja

– derajat kelangkaan talent

– adanya aturan atau program-program dari pemerintah yang lebih mendukung pensiun ketimbang partisipasi karyawan tua di pasar tenaga kerja.

“Kebanyakan kaum pengusaha di seluruh dunia menolak ramalan penduduk dan bukti-bukti terus meningkatnya kelangkaan talent, dan menunggu saja apa yang akan terjadi sebelum mulai berpikir serius tentang tenaga kerja lanjut usia,” simpul Joerres.
“Sikap seperti itu bisa membuat mereka terlambat untuk menyadari pengaruh besar dari gelombang pensiun terhadap produktivitas dan basis pengetahuan perusahaan mereka,” tambah dia.

Ditambahkan juga, sikap akomodatif terhadap karyawan tua juga tergantung pada besar-kecilnya perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan dengan 1000 atau lebih karyawan cenderung melihat karyawan tua sebagai “berbiaya mahal”, ketimbang perusahaan yang berskala lebih kecil. Meskipun, perusahaan dengan karyawan di bawah seratus orang umumnya juga “kurang mencintai” karyawan tua.

Tags: