Perusahaan Harus Mengukur Efektivitas Rekrutmen dengan Benar

Jumlah perusahaan yang memadukan ukuran efektivitas rekrutmen berdasarkan waktu dan biaya dengan mengevaluasi kualitas orang yang direkrut dan kecocokan karyawan baru dalam organisasi, terus bertambah. Tapi, menurut penelitian, masih jauh dari harapan.
Hampir 70 persen perusahaan yang diteliti dalam survei terbaru yang dilakukan oleh lembaga penyedia solusi manajemen talent Authoria di Amerika mengaku tidak puas dengan cara perusahaan mereka mengevaluasi kualitas tenaga yang direkrut. Dan, 69 persen menyatakan bahwa berbagai bentuk evaluasi itu tak lebih dari hukum bisnis yang diwariskan.
“Secara tradisional, fungsi perekrutan hanya dilihat dalam ukuran-ukuran waktu dan biaya,” ujar CEO dan Chairman Authoria Tod Loofbourrow seperti dilaporkan HREOnline. “Tapi, pengusaha mulai makin menyadari pentingnya menentukan dan mengukur dimensi dari kualitas itu sendiri, melalui tolok ukur seperti kepuasan manajer perekrutan dan karyawan yang direkrut, dan kesesuaian antara kandidat dengan syarat-syarat diskripsi kerja.”
Loofbourrow mengatakan, melakukan pengukuran dalam proses rekrutmen menjadi prioritas yang tak diragukan lagi untuk kepentingan masa depan perusahaan.
Survei tersebut mencatat bahwa 82 persen perusahaan menyatakan, perbaikan dalam wilayah rekrutmen tersebut harus terjadi dalam 12 bulan ke depan.
Banyak ahli masalah rekrutmen setuju bahwa menggunakan cara yang benar dalam mengukur efektivitas rekrutmen menempati urutan teratas dalam daftar agenda banyak perusahaan.
Hasil survei yang dilakukan Authoria dianggap menjadi bukti kepekaan atas pentingnya perusahaan memiliki ukuran kualitas karyawan baru.
Konsultan kepegawaian dan penulis pada CareerXroads, sebuah panduan online job, Mark Mehler menegaskan, sungguh penting untuk selalu mempertimbangkan apakah informasi merupakan ukuran yang layak dalam rekrutmen. “Kebanyakan perusahaan lebih memperhatikan kualitas resume dan menjaring yang mereka semata berdasarkan yang mereka dapatkan itu,” kata dia. “Ukuran lain menjadi nomer dua untuk…sekedar menyenangkan manajer.”

Tags: