Perusahaan Harus Hati-hati Terapkan Benefit

Benefit merupakan salah satu senjata ampuh bagi perusahaan untuk menarik dan mempertahankan karyawan. Namun, bukan berarti penerapannya boleh dilakukan secara “jor-joran”. Sebaliknya, perusahaan perlu hati-hati dalam memberikan benefit kepada karyawan. Jangan menerapkan sebuah strategi benefit hanya karena harus ada, atau karena perusahaan lain menerapkannya.

Demikian papar Business Support Director PT Mega Central Finance Iwan Setiawan yang membawakan sesi “Managing The Cost of Health Care” dalam seminar dua hari HR Expo 2007 yang digelar Intipesan di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (12/12/2007). “Dalam pemberian benefit, khususnya medical benefit, berlaku hukum kekekalan benefit, artinya setelah kita berikan akan sulit ditarik kembali,” tutur Iwan dengan nada setengah bercanda.

Selain itu, dia mengingatkan, medical benefit sangat rawan disalahgunakan oleh karyawan. Selama pengalamannya menjadi praktisi HR di perusahaan maupun sebagai konsultan, Iwan mengaku banyak menemui klaim medis yang tidak benar. Misalnya, ada karyawan yang membeli sembako di apotek dan mengajukan klaim kepada perusahaan sebagai biaya pengobatan.

Karena itu, Iwan menyarankan, sebelum menerapkan medical benefit, HR harus tahu dulu apa filosofi perusahaan atau apa yang mendasari perusahaan dalam memberikan benefit tersebut. Lebih jauh Iwan menjelaskan, setiap komponen benefit sebenarnya mempunyai kegunaan tersendiri. Misalnya, base salary untuk menghargai proses (“how the job is done”), sedangkan insentif untuk menghargai hasil (“the result that are achieved”).

Di samping itu, secara umum, benefit biasanya dimaksudkan untuk menghargai keanggotaan (“the fact of being employed by the organization”). Dengan kata lain, benefit, terutama yang bersifat jangka panjang, bertujuan untuk me-retain karyawan, khususnya yang memegang posisi kunci.

Pemberian benefit tersebut menurut Iwan harus konsisten dengan budaya dan nilai-nilai perusahaan, dan mendukung strategi organisasi secara keseluruhan.
Benefit juga harus diberikan kepada orang yang tepat, dengan jumlah yang tepat, dan untuk alasan yang tepat. Sehingga, tidak kemudian menjadi masalah yang membebani perusahaan.

“Pemberian benefit bertujuan agar karyawan dapat bekerja dengan tenang, karena semua urusan keluarga dan kesehatannya sudah ditanggung oleh perusahaan,” ujar Iwan. “Namun, benefit yang terlalu bagus belum tentu baik juga. Banyak hal yang harus diperhatikan untuk melindungi secara seimbang kepentingan organisasi dan kepentingan karyawan,” demikian Iwan menyimpulkan.

Tags: