Perusahaan Global Makin Peduli untuk Kuatkan HR

Lebih dari 84% dari 150 perusahaan global yang disurvei oleh Deloitte Consulting mengaku sedang membenahi fungsi-fungsi HR mereka, di tengah banyaknya keluhan bahwa mereka telah kehilangan kesempatan untuk membangun HR yang bernilai jangka panjang dan membuatnya terintegrasi dalam strategi bisnis perusahaan.

Lebih jauh survei menemukan, pembenahan HR yang dilakukan tersebut umumnya masih berkisar pada penghematan (biaya), sistem dan proses. Ditemukan juga bahwa permintaan-permintaan terus meningkat terhadap fungsi HR untuk men-support tujuan-tujuan bisnis di tengah kompetisi bisnis yang makin menantang.

“Kami percaya banyak perusahaan kehilangan nilai tambah ketika HR hanya fokus secara eksklusif pada peningkatan operasional. Itu hanya solusi sementara, bukan strategi jangka panjang yang akan berpengaruh secara signifikan terhadap bottom line dan membantu perusahaan mencapai tujuan-tujuan bisnis,” ujar Kepala Bagian Human Capital Service Area pada Deloitte Consulting Robin Lissak, yang juga memimpin survei tersebut.

“HR harus lebih fokus pada (fungsi) supporting tujuan-tujuan bisnis, yakni pertumbuhan revenue dan (manajemen) talent. Sebagai contoh, salah satu strategi pertumbuhan yang penting bagi banyak perusahaan adalah memasuki pasar baru. Ini sering berisiko karena talent harus tersedia dan terlatih untuk menyesuaikan dengan tuntutan itu.” “Jadi, jelas bagi kita bahwa fokus (pada tujuan) jangka panjang akan memberi pengaruh yang lebih positif pada hasil-hasil perusahaan,” tambah Lissak.

Menurut survei, titik-titik yang dianggap terpenting dalam pembenahan HR adalah penghematan biaya atau efisiensi (85%) dan efektivitas pelayanan (75%). Hanya sepertiga yang menyebut “membangun kapabilitas HR” dan lebih sedikit lagi (30%) yang menyatakan akan mengupayakan peran yang lebih strategis.

Di samping itu, HR juga mengindentifikasi isu-isu penting yang perlu diperhatikan di masa mendatang yakni, menyiapkan generasi pemimpin masa depan (40%), membangun dan mengelola ketenagakerjaan global (33%), merger dan akuisisi (31%) dan populasi pegawai yang menua (27%).

Sayangnya, hanya 40% yang telah memiliki proses yang terstruktur bagi rencana HR masa depan. Artinya, ini merupakan area yang masih memerlukan pembenahan. Tanpa mekanisme formal untuk menguatkan penyelarasan HR dan bisnis, HR akan sulit menjadi mitra strategis.”Dalam pengalaman kami, transformasi HR masih berjalan terlalu lambat padahal kekuatan pasar bergerak sangat cepat,” ujar Lissak.

“Seiring dengan itu, kami melihat bahwa konstribusi HR terhadap perusahaan semakin bisa terukur, bukan oleh efisiensi administrasi dan kemampuan-kemampuannya dalam mengontrol biaya, melainkan oleh seberapa berhasil ia men-support strategi bisnis perusahaan serta dalam merancang dan mengelola isu-isu SDM,” simpul dia.

Tags: