Perusahaan di China Kewalahan Mengurusi Karyawannya

Booming ekonomi di China ternyata memberikan dampak terhadap retensi karyawan. Hal itu membuat banyak perusahaan kewalahan dalam mempertahankan staf profesional mereka. Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan itu juga menghadapi dilema antara membayar gaji yang lebih tinggi atau mengeluarkan biaya berlebihan untuk rekrutmen.

Demikian hasil riset Mercer Human Resource Consulting yang dirilis akhir Agustus ini. Perusahaan konsultan global untuk masalah SDM dan jasa keuangan itu melakukan survei terhadap lebih dari 100 organisasi di China, sebagian besar di antaranya perusahaan multinasional. Mereka menemukan, lebih dari setengah (54%) organisasi itu mengalami peningkatan dalam turnover untuk staf profesional sejak tahun lalu dan 42% melaporkan turnover yang lebih tinggi untuk staf pendukung.

Survei itu juga menemukan masa kerja rata-rata untuk usia 25 sampai 35 tahun —kelompok usia yang disasar kebanyakan perusahaan multinasional— turun dari rata-rata tiga hingga lima tahun pada 2004, menjadi hanya satu hingga dua tahun pada 2005.

“Pasar tenaga kerja di China sedang meledak beberapa tahun terakhir ini, karena semakin banyak organisasi multinasional yang membuka operasinya di sana dan juga perusahaan lokal yang berkembang pesat. Individu dengan keahlian yang berguna menjadi komoditas yang berharga, dan perusahaan kewalahan menahan mereka,” ungkap Brenda Wilson, Principal dari Mercer seperti dilaporkan Mercerhr.com.

Brenda menambahkan, “Ketika karyawan mengancam untuk berhenti, banyak perusahaan mencoba menahan mereka dengan menaikkan gaji. Meskipun terkadang cara ini berhasil untuk jangka pendek, seringkali perusahaan pesaing juga bersedia memberikan gaji yang sama.”

Karena itu perusahaan mulai menyadari, mereka perlu lebih canggih dalam pendekatan untuk menarik dan menahan karyawan. Mereka yang menawarkan keuntungan yang lebih “soft” seperti jam kerja yang fleksibel dan memberikan peluang karir yang lebih bermakna akan lebih berhasil dalam menahan karyawan terbaik mereka.

Keuntungan yang Diharapkan

Survei itu juga menemukan, 83% organisasi memberikan asuransi kesehatan, 41% memberikan program kesehatan dan kebugaran dan 24% menawarkan jam kerja yang fleksibel. Hanya 21% memberikan program pensiun tambahan, dan 10% memberikan pinjaman bersubsidi. Tapi, hasil survei juga menemukan 44% dari organisasi itu merasa karyawan mereka tidak puas dengan keuntungan yang diberikan perusahaan.

Memberikan penugasan keluar negeri ternyata dianggap sebagai cara yang paling efektif untuk mengembangkan karir karyawan, walaupun hanya 42% organisasi yang memberikan peluang semacam itu. Rencana pengembangan karir individual, yang diberikan oleh 51% perusahaan, juga dianggap efektif.

Sebaliknya, program mentoring dianggap tidak efektif dan hanya diberikan oleh 26% organisasi yang disurvei. “Perusahaan yang menawarkan program penugasan ke luar negeri dan rencana pengembangan karir individual menunjukkan kemauan untuk berinvestasi pada karyawannya,” kata Brenda Wilson.

Tags: