Perusahaan di Asia Harus Lebih Fokus pada Pengembangan Kepemimpinan

Hanya sedikit CEO di Asia yang proaktif dan strategis dalam mengembangkan generasi penerus kepemimpinan perusahaannya. Minimnya fokus dalam pengembangan kepemimpinan ini akan mempersulit generasi pemimpin berikutnya untuk mengemban tanggung jawab kepemimpinan tingkat senior.
Demikian kesimpulan hasil penelitian yang dilakukan oleh The Gallup Organization dan Global Leadership Institute University of Nebraska atas penugasan dari Kementerian Tenaga Kerja Singapura yang diumumkan pekan lalu.
Penelitian kemudian merekomendasikan, dalam memanfaatkan SDM berkualitas di kawasan Asia, perusahaan harus lebih proaktif memperkuat landasan kepemimpinannya. Perusahaan juga diserukan agar lebih strategis dalam program pengembangan dan pembinaan (mentoring) di setiap jenjang.
Di samping itu, perusahaan di Asia juga perlu mengembangkan cara inovatif dalam membina pemimpin baru guna menghadapi lingkungan bisnis yang dinamis saat ini maupun di masa mendatang. Ditegaskan, inisiatif seperti itu sangat penting agar Asia dapat mempertahankan laju pertumbuhan yang pesat seperti saat ini.
Dengan mengevaluasi profil kepemimpinan di enam kota di Asia, yakni Bangalore, Beijing, Hong Kong, Mumbai, Shanghai dan Singapura, penelitian ini melibatkan sekitar 300 responden yang merupakan tenaga kerja di kota-kota tersebut, baik yang bekerja secara langsung maupun tidak langsung dengan pimpinan di perusahaan-perusahaan terkemuka.
Penelitian ini juga melibatkan 40 CEO terkemuka di Singapura, Beijing dan Bangalore. Mereka diwawancarai mengenai persepsi terhadap gaya, fokus, dan metode kepemimpinan mereka, serta persepsi kepemimpinan secara umum.
Hasilnya, 89% CEO menyatakan bahwa mereka memberikan mentoring kepada tenaga kerjanya hanya apabila ditanya, dan 23% lainnya menyatakan telah memiliki program mentoring yang resmi di perusahaannya.
Sedangkan, proses mentoring itu sendiri dilaksanakan dengan beragam cara, seperti melalui sesi makan siang bersama sampai dengan mendengarkan serta memberikan saran dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh karyawan. Hanya sejumlah kecil dari responden CEO yang menyediakan program mentoring secara formal dan strategis di perusahaannya.
Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa mayoritas perusahaan di kawasan Asia tidak memiliki strategi pengembangan kepemimpinan yang komprehensif dalam mempertahankan tenaga kerja terbaiknya. Sebagian besar dari pimpinan yang ada saat ini menempati posisinya tanpa pelatihan secara resmi.
Menanggapi hasil penelitian tersebut, Permanent Secretary Departemen Ketenagakerjaan Singapura Leo Yip mengatakan, “Temuan ini menunjukkan kebutuhan perusahaan di Asia untuk mengambil langkah yang lebih strategis dan proaktif terhadap upaya pengembangan kepemimpinan.”
Yip mengatakan, isu tersebut akan menjadi salah satu fokus utama perhelatan Singapore Human Capital Summit yang gelar oleh kementeriannya bekerja sama dengan Singapore Workforce Development Agency (SWDA) pada 22-24 Oktober 2008 mendatang.
Menurut Chief Executive SWDA Ong Ye Kung, pimpinan-pimpinan perusahaan meluangkan 90% dari waktunya untuk menjalankan perusahaannya, dan 10% untuk mengidentifikasi dan membina calon pemimpin berikutnya. “Namun, sering yang 10% itu merupakan solusi dari 90% masalah-masalah yang akan dihadapi di masa depan,” ujar dia.
“Ada beberapa model dalam pengembangan kepemimpinan, karena itu akan menjadi sangat menarik untuk mendengarkan pengalaman-pengalaman para pimpinan dari negara-negara dengan budaya Asia yang beragam dalam konferensi Singapore Human Capital,” tambah dia setengah berpromosi.

Tags: