Perusahaan Bisa Ambil Untung dari Aktivitas Karyawan di Media Sosial

Maraknya aktivitas karyawan di situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter membuat perusahaan perlu membuat rambu-rambu agar akvititas tersebut dapat diarahkan ke tujuan yang menguntungkan bagi perusahaan, bukan sebaliknya.

Demikian yang dapat disimpulkan dari seminar setengah hari bertajuk Social Media for Employee, How to Become Brand Ambassador in Social Media. Seminar tersebut dibawakan oleh CEO Virtual Consulting Nukman Luthfie yang juga dikenal sebagai pakar strategi online dan media sosial media kepada sekitar 200 orang karyawan BNI di Jakarta, akhir pekan lalu.

Perkembangan situs-situs jejaring sosial telah begitu maraknya sehingga hampir setiap karyawan memiliki account, misalnya di Facebook. Sebagian besar account di Facebook itu masih bertindak sebagai individu, bukan mewakili perusahaan. Sebagai individu, karyawan mempublikasikan status-status yang bersifat pribadi, biasanya seputar apa yang mereka konsumsi, tentang pekerjaan (bos, rekan kerja), dan tentang diri sendiri.

Berkaitan dengan fenomena itu, Nukman melihat ada bahaya yang mengintai di balik aktivitas karyawan dalam ber-social media. Yakni, tidak adanya konteks yang menyertai setiap status, sehingga dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda.

“Misalnya saja, ada karyawan yang memasang status, baru saja mendapat bonus 2 kali gaji,” kata Nukman. Hal ini bisa saja ditanggapi sebagai hal yang luar biasa, menunjukkan kehebatan perusahaan tersebut, tapi bisa juga dianggap tidak ada apa-apanya, karena ternyata perusahaan kompetitor memberikan 5 kali gaji.

Selanjutnya, Nukman juga memberikan contoh bagaimana hal-hal kecil yang dilakukan karyawan di situs jejaring sosial, dengan sengaja maupun tidak, dapat merugikan citra perusahaan. Hal ini pernah terjadi pada Honda, Asus, dan Domino Pizza di Amerika. Namun, bukan berarti perusahaan perlu membatasi akses karyawan pada situs-situs tersebut.

“Membatasi akses karyawan kepada situs jejaring sosial sebaiknya tidak dilakukan,” tegas Nukman. Sebab, pada sisi lain, aktivitas karyawan di situs jejaring sosial juga dapat memberikan nilai positif dimana karyawan dapat menjadi duta-duta atau juru bicara perusahaan di situs jejaring sosial tersebut. (Baca: HR Perlu Terapkan Kebijakan Formal Mengenai Social Media).

Untuk mencegah dampak negatif dan memunculkan dampak positif bagi perusahaan, Nukman menyarankan adanya sebuah kebijakan resmi dari perusahaan untuk aktivitas jejaring sosial karyawan. Penyusunan Social Media Policy itu sebaiknya melibatkan lima pihak, yaitu: bagian Marketing, senior management, IT, legal, dan Human Resources.

Nukman juga memberikan 10 rambu yang dapat digunakan sebagai acuan karyawan secara umum ketika melakukan aktivitas di situs jejaring sosial. Di antaranya, gunakan identitas yang asli dan sebutkan tempat Anda bekerja, selalu menggunakan akal sehat dan patuhi nilai-nilai kesopanan, serta fokuslah pada topik-topik yang menjadi bidang spesialisasi Anda.

“Apabila Anda ingin membantah atau menolak pendapat seseorang, lakukan dengan sopan dan sepantasnya. Bila situasi menjadi tegang, jangan bersikap defensif dan terlalu emosional menanggapi percakapan yang ada. Mintalah nasihat pada bagian Humas bila perlu, bila percakapan itu dapat berpengaruh pada citra perusahaan,” papar Nukman.

Tags: