Pertumbuhan Ekonomi Buka Karir Baru bagi Tenaga Kerja

Pertumbuhan ekonomi Vietnam yang cepat telah menarik perusahaan manufaktur global seperti Disney dan Intel untuk masuk ke negeri itu. Kehadiran mereka menciptakan pilihan-pilihan karir baru bagi tenaga kerja muda, khususnya kaum perempuan.
Kesibukan bubaran pabrik yang riuh-rendah setiap sore menjadi gambaran nyata bagi posisi Vietnam dalam percaturan ekonomi dunia saat ini.

Lebih dari 30 tahun setelah berakhirnya perang, dan lebih dari satu dekade setelah normalisasi hubungannya dengan Amerika, Vietnam muncul secara mengejutkan di tengah perdagangan global. Bahkan, kini Vietnam telah ikut memasuki jalur supercepat perdagangan bebas dengan menjadi anggota WTO. Kesempatan dan risiko kini terbuka sama besar di Vietnam. Saat ini, negeri tersebut mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Asia setelah China (8,4% tahun lalu).

Vietnam telah menjadi alternatif bagi perusahaan-perusahaan global untuk meluaskan sayap bisnisnya, dari raksasa semikonduktor Intel sampai rumah busana Victoria’s Secret. Kehadiran mereka melahirkan generasi pekerja pabrik yang menandai munculnya kelas menengah yang menikmati hidup dengan membeli pesawat televisi dan sepeda motor.
Mereka belum pernah mendengar WTO sebelumnya. Juga, mereka juga tak tahu apa itu Disney. Namun, kini sehari-hari mereka bekerja di pabrik yang membuat boneka-boneka untuk perusahaan Amerika itu, seperti Mickey Mouse.

Manufacturing memang merupakan kegiatan usaha yang paling menonjol, dan segalanya tak lagi sama seperti era 1990-an. Yakni, ketika pabrik-pabrik dengan buruh yang dibayar rendah dikuasai oleh subkontraktor Korea dan Taiwan, memproduksi pakaian dan sepatu untuk Nike dan merek terkenal lainnya, sering menimbulkan gejolak dan seruan boikot.

Nike, dengan lebih dari 130 ribu pekerja pada 165 subkontarktor di Vietnam, telah mengambil bagian sangat besar dalam perbaikan kondisi seperti terlihat sekarang. “Solusinya adalah menciptakan sistem yang baik untuk kemudian dijalankan dengan benar pula,” ujar kepala perwakilan Nike di Vietnam, Amanda Tucker.

Perusahaan-perusahaan besar seperti Nike dan Disney mengirim pengawas mereka sendiri untuk melakukan pemeriksaan secara reguler. “Kebiasaan lama yang menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada subkontraktor sudah lewat,” ujar Carey Zesiger, warga Vietnam yang berbahasa Amerika, pengelola Global Standards, organisasi monitoring di Kota Ho Chi Minh –dulu Saigon- yang mengaudit pabrik-pabrik multinasional.

“Ada banyak pelanggaran di sini pada 1990-an, tapi Vietnam tak mau mentolerir itu,” tambah dia seperti dilaporkan Fortune. Standar-standar untuk tenaga kerja memang belum diterapkan secara sempurna di pabrik-pabrik subkontraktor itu. Disney memonitor mereka untuk memastikan adanya perbaikan.

Tags: