Perlunya Leadership Bagi Para Insinyur

Di banyak perusahaan besar, peran profesi insinyur sering dijumpai bahkan melalui top manajemennya. Banyak para pempimpin perusahaan dikomandani oleh seorang yang bertitel insinyur. Namun demikian, tidak semua insinyur bisa menduduki posisi puncak jika ia tidak membekali diri dengan leadership. Benarkah?

Insinyur dalam kamus Wikipedia adalah orang yang bekerja dalam bidang teknik. Insinyur adalah orang yang menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menyelesaikan masalah praktis menggunakan teknologi. Terminologi ini masih kurang lengkap, sehingga Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mendefinisikan seorang insinyur sebagai seseorang yang melakukan rekayasa teknik sumberdaya alam untuk peningkatan nilai tambah/dayaguna dan/atau pelestarian untuk kesejahteraan umat manusia.

Inilah sebagian serunya acara one day seminar “Building Managerial & Leadership Competency for Engineers” yang diselenggarakan oleh PPM Manajemen bekerjasama dengan PII bertempat di Gedung Bina Manajemen, Jakarta, Kamis (30/6). Dalam acara yang dihadiri lebih kurang 150 peserta ini menghadirkan pembicara-pembicara seperti M. Said Didu (Ketua Umum PII), Andi Ilham Said (Dirut PPM Manajemen), Amir Sambodo (Staf Ahli Menko Perekonomian), Rinaldi Firmansyah (Dirut Telkom), dan Martiomo Hadianto (Presdir PT Newmont Pacific Nusantara).

Hampir seragam, para pembicara menekankan bahwa para insinyur saat ini dituntut untuk memiliki multi ketrampilan. Menurut Rinaldi Firmansyah, para insinyur yang memang sudah terbiasa dengan otak kiri yang cenderung berpikir runtut, sistematis, dan analitis, jika ia ingin meningkatkan karirnya, maka ia harus bisa mengembangkan kemampuan mengasah otak kanannya. Senada dengan Rinaldi, Martiono menyebut ada 3 hal yang harus dikuasai oleh para insinyur ke depan.

“Pertama, untuk bisa menjadi pimpinan puncak, insinyur harus betul-betul jeli dan pandai menggunakan otak kiri dan otak kanannya. Ini sudah saya buktikan saat ditunjuk menjadi direktur keuangan Garuda Indonesia, direktur utama Pertama, dan di kantor dirjen bea cukai, saya melakukan banyak pembenahan yang sebenarnya menggunakan jurus simpel dan sederhana yakni memadukan kemampuan otak kiri dan kanan,” ujar Martiono.

Kedua yang harus dimiliki oleh para insinyur, lanjut Martiono, insinyur harus bisa berpikir positif. Dan, ketiga insinyur harus jeli melihat peluang. “Kita tahu teori itu banyak sekali, tapi untuk menjadikannya itu sebagai peluang maka itu menjadi tantangan tersendiri,” imbuhnya. Rinaldi menimpali bahwa para insinyur harus membuka diri untuk bisa menguasai banyak bidang. “Kita memang harus bangga menjadi insinyur, jadilah insinyur yang problem solver bukan justru problem creator,” tukas Rinaldi.

Dalam seminar ini juga menandai dibukannya “Engineering Executive Program” hasil kolaborasi antara PII dan PPM Manajemen. Dalam program ini akan ada proses pembelajaran, yakni berupa in class program (lecturing-sharing session, discussion, self assessment, case studies, presentation, individual action plan and commitment), executive coaching dan project assignment presentation. Dari program ini diharapkan para insinyur bisa lebih profesional dengan melengkapi diri dengan ilmu manajemen dan leadership. (rk)

Tags: