Perluasan Kerja Sama Penting dengan Perlindungan Tenaga Kerja

Pemerintah dan kalangan pelaku usaha hendaknya tidak hanya memperhatikan perlindungan terhadap orang-orang yang sudah bekerja. Tapi, juga perlu memikirkan upaya-upaya untuk memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat. Sebab perluasan lapangan kerja sama pentingnya dengan perlindungan tenaga kerja.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI) Sapto Satrioyudo di Jakarta. “Angka pekerja 30% dari total masyarakat usia kerja, dan itu ingin di-protect banget sehingga investasi kita hanya berputar di situ,” ujar dia. Sapto yang belum lama ini menghadiri konferensi “Outsourcing World” di New York mengungkapkan, Indonesia mestinya semakin serius mempertimbangkan outsourcing sebagai alternatif perluasan lapangan kerja untuk mengatasi masalah pengangguran.

“Setahu saya, hanya di sini saja outsourcing dipahami sebagai sesuatu yang buruk. Di tingkat dunia, outsourcing itu dipandang sebagai praktik yang bagus, menarik dan bisa menunjang karir individu,” papar salah satu komisaris pada perusahaan alih daya PT Perdana Perkasa Elastindo (Persaels) tersebut.

Lebih jauh Sapto menyebutkan sejumlah negara yang menempatkan praktik outsoursing pada posisi yang tinggi. “Pemerintah India mereguk devisi dari sini. Cina ingin jadi negara tujuan tenaga-tenaga kerja alih daya bagi dunia, dan Malaysia ingin jadi outsourcing destination bagi Asia Tenggara.” Menurut Sapto, persepsi buruk terhadap outsourcing yang terjadi di Tanah Air disebabkan oleh masih banyaknya praktik penempatan tenaga kerja yang secara prinsip berbeda dengan outsourcing. “Kalau perusahaan outsourcing yang benar itu, kita mengambil satu rangkaian proses bisnis untuk dialihkan ke pihak ketiga, jadi bukan sekedar alih tenaga kerja,” jelas dia.

Sapto juga melihat adanya kontradiksi pada pihak-pihak tertentu yang selama ini menuntut penghapusan praktik outsourcing yang dianggap sebagai “perbudakan modern”. “Mereka ingin menghapus, tapi aturannya tidak dicabut dulu. Mestinya aturannya yang dihapus dulu, karena outsourcing ini diatur dalam undang-undang ketenagakerjaan,” ujar dia. Oleh karenanya, Sapto justru meminta semua pihak untuk lebih memahami manfaat praktik outsourcing, dan mengimbau pemerintah mendukungnya dengan regulasi. Saat ini di Jakarta dan sekitarnya saja terdapat 900-an perusahaan alih daya. Belum lagi di Batam (300-an) dan Makassar (500-an).

Untuk menunjukkan kepada masyarakat luas betapa karyawan outsourcing “sama happy-nya” dengan karyawan dari perusahaan-perusahaan lain, Persaels menggelar gathering bagi karyawannya sebagai wujud penghargaan atas dedikasi mereka, yang berlangsung di f.x Plaza, Jakarta Pusat, akhir pekan lalu. Selain Sapto Satrioyudo, hadir pula anggota komisaris lain sekaligus pendiri PT Persaels Iftida Yasar dan Direktur Utama, Hirawan. Dalam kesempatan tersebut, Iftida Yasar meluncurkan bukunya, berjudul “Sukses Implemetasi Outsourcing”. Acara gathering dimeriahkan dengan pentas musik yang menghadirkan Maia&Friends.

Tags: