Perlakukan “Consistent Performer” dengan Elegan

Salah satu tantangan terbesar perusahaan dewasa ini tak pelak lagi adalah membuat karyawan-karyawan terbaik bertahan (lebih) lama dalam organisasi. Seperti kata sebuah iklan, semua tentu ada formulanya. Untuk mereka yang terbaik, perusahaan perlu memberikan perlakuan yang elegan. Seperti apa itu?
"Saya bilangnya pakai telur," ujar Head of Human Resources PT APL Indonesia Ivan Taufiza berbagi pengalamannya. "Bukannya perlakuan khusus lagi, tapi spesial," tambah dia.
Secara garis besar Ivan memetakan populasi karyawan ke dalam dua macam. Pertama, consistent performer yakni mereka yang sedikitnya dua tahun berturut-turut menunjukkan kinerja yang bagus. Kedua, consistent poor performer yakni mereka yang dua tahun berturut-turut buruk kinerjanya.
"Untuk para consistent performer saya pastikan saya sendiri yang mem-<I>plan</I> pengembangan karir dan training mereka. <I>One on one</I> saya diskusi dengan mereka. Di HP saya ada nomer mereka biar tahu bahwa mereka dipantau langsung oleh <I>head HR</I> mereka," papar Ivan.
Apalagi? "Kalau ada promosi mereka yang duluan diajukan. Saya pastikan gaji mereka di atas median market."
Tujuan akhir dari semua itu, Ivan menandaskan, tak lain untuk karir orang-orang tersebut bisa lebih panjang dalam organisasi. "Bagaimana mereka bisa melihat lima tahun dari sekarang karir mereka di organisasi…kita harus memfasilitasi mereka sampai ke sana, kita persiapkan."
Sebaliknya, untuk para consistent poor performer, ada tiga pilihan yang diberikan sesuai dengan penyebab buruknya kinerja mereka. Pertama, bagi mereka yang salah tempat maka dilakukan transfer job. Kedua, bisa jadi mereka kurang training, maka solusinya diberi lebih banyak pelatihan.
Ketiga, organisasinyalah yang salah, sehingga mereka difasilitasi untuk keluar agar menemukan organisasi yang lebih cocok. Konsekuensinya, perusahaan harus melakukan rekrutmen untuk menggantikan mereka, tentu saja dengan orang-orang yang lebih baik kinerjanya.
"Maka di sini rekrutmen menjadi kritikal dan strategis. Kita tempuh berbagai jalan, bisa pakai head hunter, bisa juga menggunakan yang namanya employee referral program. Dengan sumber yang beragam kita bisa mendapatkan profil kandidat yang menjanjikan pula," papar Ivan.
Menurut Ivan, perusahaan tempatnya bekerja memiliki brand yang kuat untuk industri shipping dan logistik. "Di sini kami mengembangkan performance culture, artinya orang yang masuk ke sini harus benar-benar perform, kalau tidak, susah," kata dia.