Perguruan Tinggi Perlu Redifinisi Orang-orangnya

Perguruan tinggi sebagai sumber talent bagi dunia industri perlu melakukan definisi ulang terhadap orang-orang yang terdapat di dalamnya agar selaras dengan kebutuhan bisnis.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Daya Dimensi Indonesia (DDI) Vina G Pendit dalam Indonesia Career Conference 2007 yang digelar oleh Binus Career Universitas Bina Nusantara di Jakarta, pekan lalu.

Vina menyampaikan makalah bertajuk “Maintaining Potensial Human Resource: Finding Tomorrow’s Talent Today”.

Menurut dia, langkah redifinisi terhadap orang-orang di dalam perguruan tinggi bisa dimulai sejak pemilihan rektor. “Dalam memilih rektor, pertimbangkan success profile yang bersangkutan, harus beda, yakni yang sesuai dengan tuntutan bisnis.”

Saat ini, ungkap Vina, dunia industri berda dalam kondisi yang “hiper-kompetitif”. Perusahaan-perusahaan mendapat tekanan yang begitu besar dari pasar untuk terus-menerus memperhatikan manajemen talent.

“The war for talent is a battle that never ends,” kata dia.

Vina merinci kondisi tersebut dengan menggambarkan, betapa untuk perusahaan-perusahaan terbaik dan paling atraktif sekali pun, tak bisa menghindari risiko kehilangan talent.

“Di sisi lain, terjadi kelangkaan kapasitas-kapasitas kunci, utamanya dalam hal kepemimpinan dan peran penjualan serta pelayanan customer yang bernilai tinggi.”

Mulai dari Kampus

Vina menegaskan, berbagai kapasitas yang dibutuhkan oleh dunia bisnis bisa dilatih mulai dari kampus.

“Basic soft skill lain yang dicari adalah kemampuan beradaptasi dan teamworking,” tambah dia seraya mengungkapkan, dalam pengalamannya, perusahaan menggunakan patokan IP (indeks prestasi) untuk melihat potensi calon karyawan.

“Dengan meminta kandidat yang memiliki IP di atas tiga misalnya, mereka berasumsi bahwa lulusan dengan kapasitas itu bisa dimasuki ilmu apa saja. IP masih dianggap menggambarkan kemampuan analitis seseorang.”

Kualifikasi kemampuan analitis pula, lanjut Vina, yang membuat banyak perusahaan cenderung mencari lulusan dari perguruan tinggi ternama.

“Bahkan untuk industri perbankan, perusahaan lebih mempertimbangkan lulusan ITB misalnya, ketimbang universitas yang sebenarnya lebih spesifik seperti Perbanas. Mereka lebih memilig men-training mahal lulusan perguruan tinggi umum,” tutur Vina.

Tags: