Perbankan Syariah Butuh SDM yang Kompeten

Kini makin banyak bank-bank konvensional yang membuka unit usaha syariah. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan, pada 2010 industri perbankan syariah membutuhkan sekitar 7.100 sumber daya manusia (SDM). Proyeksi tersebut dihitung berdasarkan skenario moderat BI tahun ini dengan pertumbuhan aset mencapai Rp 97 triliun. Sehingga, pada 2010 diperkirakan jumlah total SDM perbankan syariah mencapai 21.896 orang.

Jumlah tersebut meningkat pesat dibanding data BI pada November 2009 yang menunjukkan bahwa total SDM perbankan syariah saat itu sebanyak 14.893 orang. Bahkan, dalam lima tahun ke depan, menurut Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Muliaman D. Hadad, kebutuhan SDM perbankan syariah mencapai 40 ribu orang. Ia menjelaskan, tingginya daya serap SDM di lembaga keuangan syariah (LKS) merupakan konsekuensi logis dari perkembangan yang terjadi di industri tersebut. Jika industri tumbuh cepat, otomatis daya serap tenaga kerja juga cepat.

Sayangnya, upaya ekspansi yang dilakukan oleh LKS belum dibarengi dengan kualifikasi SDM syariah. Saat ini lulusan perguruan tinggi yang memahami perbankan syariah masih sangat minim. Untuk memenuhi kebutuhan ekspansi, sebagian besar LKS masih mengambil SDM dari bank-bank konvensional, yang kemudian diberikan pengetahuan dan pelatihan tentang keuangan syariah. Karena itu, tak heran jika pengetahuan keuangan syariah yang mereka miliki hanya seadanya.

Mencari SDM untuk perbankan syariah memang tidak mudah. Setidaknya, ada empat kompetensi yang harus dimiliki. Pertama, kompetensi inti –perbankan syariah membutuhkan SDM yang memiliki pandangan dan keyakinan yang sesuai dengan visi dan misi perbankan syariah. Kedua, kompetensi perilaku, yakni kemampuan SDM untuk bertindak efektif, memiliki semangat Islami, fleksibel, dan rasa ingin tahu yang tinggi.

Ketiga, kompetensi fungsional, yang berkaitan dengan background dan keahlian dasar ekonomi syariah, operasi perbankan, administrasi keuangan, dan analisis keuangan. Dan, terakhir, kompetensi manajerial –perbankan syariah membutuhkan SDM yang mampu menjadi team leader, cepat menangkap perubahan dan mampu membangun hubungan dengan yang lain.

Kelangkaan

Pengamat ekonomi menilai, hanya sekitar 25 – 30 persen SDM di lembaga keuangan syariah yang memiliki latar belakang kompetensi syariah yang memadai dengan kebutuhan dan standar ekspektasi pasar. Dari angka yang menunjukkan kelangkaan itu, mungkin hanya 10 persen yang benar-benar mempunyai latar belakang pengetahuan ekonomi syariah, dalam arti benar-benar mengenyam pendidikan ekonomi syariah secara formal baik dari dalam maupun luar negeri.

Kesenjangan kompetensi ini lebih dipertegas lagi dengan kenyataan belum adanya sistem terpadu yang memfokuskan perekrutan, penempatan, pembinaan maupun pelatihan SDM syariah secara komprehensif, praktis dan pragmatis, yang dapat mempercepat proses pembentukan, persiapan dan pengembangan kompetensi SDM syariah agar dapat melaju sama cepatnya dengan perkembangan kebutuhan bisnis di LKS yang bersangkutan.

Menyikapi kebutuhan yang mendesak ini, sering LKS mengambil jalan pintas untuk merekrut pegawai yang telah memiliki skill dan pengalaman dari kompetitor. Atau, mereka merekrut, membina dan mendidik pegawainya sendiri melalui program perekrutan dan pelatihan yang sistemnya sama dengan yang diterapkan bagi pegawai LKS konvensional atau perusahaan induk yang tidak berbasis syariah.

Terobosan lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi kelangkaan SDM di industri keuangan syariah saat ini antara lain dengan program outsourcing. Dalam hal ini, proses seleksi dan perekrutan, serta pembinaan SDM syariah dapat dipercayakan kepada pihak outsourcing agent yang dipandang kompeten dalam merekrut, mencetak dan membina kader-kader pegawai untuk LKS. Dengan cara ini, diharapkan LKS tidak pusing lagi mencari SDM syariah yang berkualitas. (Firdanianty)