Perang Talent Sudah Selesai

Jangan lagi bicara tentang “talent war”. Saat ini, perang talent sudah selesai. Siapa pemenangnya? “War of talent is finish,” tegas Direktur HR TNT Indonesia Irvandi Ferizal saat menjadi narasumber dalam salah satu sesi seminar HR Expo yang digelar oleh Intipesan di Hotel Shangri-La, Jakarta, 11-12 Desember 2007.

“Dan, yang menang tak lain ya talent itu sendiri,” ujar Irvandi. Menurut dia, hari ini sudah tidak ada lagi yang bisa disebut sebagai perang talent, karena pada kenyataannya memang perusahaan tidak perlu berebut untuk mendapatkan individu-individu SDM yang berkualitas.”Pengangguran kita tinggi, tapi perusahaan susah mencari orang yang bagus. Akhirnya, talent yang menang, mereka sendirilah yang sekarang yang menentukan harga pasar,” para Irvandi.

Lebih jauh Irvandi menandaskan, pada era sekarang ini, sebenarnya sudah bukan zamannya lagi bagi perusahaan untuk saling membajak karyawan, memperebutkan talent, dengan tujuan mendapatkan tenaga siap pakai dalam waktu yang cepat. Untuk memperkuat argumennya, dia mengutip hasil survei yang dilakukan Majalah Fortune, yang menyebutkan bahwa 47% karyawan yang pindah ke perusahaan lain dalam posisi/jabatan yang sama, mengalami kegagalan.

Belum lagi, masih mengutip survei yang sama, 44% pelamar berbohong dalam CV mereka.
“Jadi, perusahaan harus berpikir lagi untuk selalu mencari tenaga siap pakai, sebab budaya perusahaan berbeda-beda,” simpul dia. Irvandi Ferizal membawakan makalah bertajuk “Strategies for Engaging & Retaining the Best Employee” yang intinya mendorong para staf maupun pimpinan HR untuk tidak tergantung pada komitmen dari top management dalam menerapkan program-program.

“Komitmen dari atas itu memang diperlukan, tapi jangan sampai malah jadinya saling menunggu. Jangan ada lagi alasan, belum ada komitmen dari top management. Mari kita mulai dari tim kecil, dari divisi HR sendiri, lalu dijual ke manajemen,” saran dia. Irvandi melihat, kelemahan yang masih banyak dijumpai pada kalangan HR terletak pada keterampilan menjual ide. “HRD jelek di marketing, punya produk tapi nggak bisa mengemas dengan bagus. Orang HR harus bisa menjual programnya dalam bahasa bisnis pada orang manajemen,” hemat Irvandi.

Tags: