Penyelarasan Pendidikan dan Dunia Kerja Jadi Fokus Penting

Penyelarasan pendidikan dan dunia kerja jadi fokus yang penting saat ini. Bukan hanya untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja, tapi juga untuk melatih lulusan agar mampu mandiri menjadi wirausaha yang bisa menyediakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Demikian penegasan dari Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional Hamid Muhammad dalam acara pelepasan 16 dosen dari sejumlah perguruan tinggi untuk belajar kewirausahaan di Amerika Serikat di Jakarta akhir pekan lalu.
Dengan adanya penyelarasan tersebut, diharapkan lulusan dari lembaga pendidikan jadi memiliki keterampilan atau keahlian yang dibutuhkan dunia industri. Hamid mengatakan, penyelarasan mendesak dilakukan karena kenyataannya makin tinggi pendidikan seseorang, makin rendah kemandiriannya.
"Ini tecermin dari meningkatnya pengangguran terdidik di jenjang pendidikan menengah dan tinggi," tunjuk dia.
Adapun untuk pendidikan kewirausahaan, Hamid memastikan, tidak hanya akan dikembangkan di sekolahan dan perguruan tinggi. Pendidikan di luar sekolah seperti keaksaraan, lembaga kursus, dan pendidikan masyarakat juga akan dikembangkan.
Dikatakan, di Indonesia ada sekitar 10.000 lembaga kursus dan 5.000 pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang juga perlu sentuhan penyelarasan.
Entrepreuner terkenal dan pendiri Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) Ciputra mengatakan, dengan memberi kesempatan bagi dosen untuk mendapatkan pendidikan kewirausahaan di tempat yang terbaik, peluang untuk menyebarkan kewirausahaan di kampus maupun masyarakat semakin besar.
”Jika diibaratkan kereta api, Indonesia sudah kebanyakan ’gerbong’. Akibat lokomotif yang terbatas, gerbong-gerbong semakin tidak tertarik. Kita perlu perbanyak lokomotif itu, yakni entrepreneur supaya lapangan kerja semakin banyak,” kata Ciputra.