Pentingnya Value Management Bagi Gen Y

Kehadiran Generasi Y atau biasa disebut Gen Y di dunia kerja tidak dapat dielakkan. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah anak-anak muda dari generasi ini yang memasuki tempat kerja makin bertambah. Anak-anak Gen Y lahir pada periode 1981-1995. Generasi yang juga dikenal sebagai “Generasi Millennium” ini tumbuh bersamaan dangan munculnya teknologi komunikasi canggih dan internet. Karena itu, hidup mereka tidak jauh-jauh dari internet dan perangkat gadget.
Gen Y memiliki karakter yang cenderung menuntut, tidak sabar, serta kemampuan berkomunikasi yang buruk. Meski terkenal cuek dan cenderung mengabaikan peraturan kantor saat bekerja, Gen Y dipuji karena semangat dan energi mereka yang luar biasa dalam bekerja. Disadari atau tidak, Gen Y telah menjadi isu utama bagi praktisi human capital (HC) di berbagai perusahaan.
Keberadaan generasi ini sebenarnya sudah dirasakan sejak beberapa tahun terakhir. Coba perhatikan rekan-rekan Anda di kantor, berapa banyak yang berani berbeda pendapat dari orang-orang di sekelilingnya? Sepuluh tahun lalu, karyawan seperti ini dianggap menentang arus. Sekarang tidak lagi. “Anak-anak sekarang lebih kritis dan mampu mendikte orangtuanya dengan wawasan yang mereka punyai,” ungkap Steve Sudjatmiko, Managing Partner Red Piramid.
Steve menilai, anak-anak ini bisa berbuat demikian karena mereka lahir di zaman yang berbeda. “Kalau dulu kita harus mendengarkan kata-kata orangtua karena takut dikatakan durhaka. Sekarang mereka tidak takut,” ujar konsultan sumber daya manusia dan trainer, ini mengakui.
Kehadiran Gen Y di perusahaan bahkan mampu menggeser paradigma yang selama ini dianut Generasi X. Jika dahulu atasan selalu lebih tua dari bawahan karena perusahaan menerapkan sistem senioritas, sekarang tidak demikian. Karyawan-karyawan berusia muda – di bawah 35 tahun – banyak yang sudah menduduki posisi tinggi di perusahaan. “Itulah tantangan bagi generasi yang lebih tua untuk tetap survive di zaman yang serba canggih ini,” tutur Steve yang membayangkan para pemimpin perusahaan ini memakai sepatu kets dengan model rambut “jabrik” dan menguyah permen karet.
“Kita tidak bisa menghindar karena fenomena ini sudah ada di mana-mana. Banyak direksi berumur di bawah 40 tahun. Tinggal bagaimana kita mengantisipasinya,” katanya bijak. Sekarang, sudah tidak zamannya lagi para senior mengagung-agungkan kepintaran mereka. Dalam hal yang satu ini, para Gen Y memiliki kemampuan belajar yang lebih cepat dari seniornya. Steve mengungkapkan, satu-satunya yang bisa diandalkan dari generasi terdahulu adalah kembali kepada nilai-nilai. “Human capital management akan berubah menjadi human value management,” tuturnya menandaskan.
Nilai-nilai yang dimaksud Steve adalah prinsip dasar yang berlaku universal seperti kejujuran, toleransi, dan kerja sama tim. “Ini mutlak dimiliki organisasi. Nilai-nilai ini menjadi bagian dari karakter perusahaan. Jadi tidak harus dituntut atau secara verbal dipasang di dinding kantor. Karyawan sudah seharusnya meningkatkan value dasarnya,” Steve mengingatkan.
Bagi perusahaan yang bergerak di industri kreatif, telekomunikasi, dan teknologi informasi, kehadiran Gen Y bisa dianggap berkah. Cara berpikir generasi ini yang berani keluar dari kotak (think out of the box) menghasilkan ide-ide kreatif yang berguna bagi kemajuan perusahaan. Namun, bagaimana jika mereka memasuki industri yang taat dengan aturan dan prosedur? Apakah tidak terjadi konflik?
Menjawab pertanyaan ini, Steve mengambil contoh PT Astra International Tbk. Dijelaskannya, perusahaan otomotif nasional ini setiap tahun menerima banyak usulan dari karyawan yang masih muda-muda. “Semua aspirasi dan masukan itu ditampung, bahkan sampai ke pusat. Astra menganjurkan semua karyawan untuk berpikir kreatif. Astra hebat bukan karena pemimpinnya, tapi karena mau mendengarkan ide-ide karyawan,” ungkap Steve bangga. Karena itu, sepantasnya kehadiran Gen Y tidak perlu dirisaukan. Diakuinya, ini tantangan berat bagi praktisi HC. Yang penting, bagaimana memfasilitasi anak-anak muda ini agar energi mereka tersalurkan untuk memajukan perusahaan. â–  Firdanianty

Tags: