Peningkatan Perang Talent Picu Perubahan Rekrutmen

Lebih dari lima puluh persen perusahaan saat ini tengah memikirkan kembali cara-cara merekrut orang seiring dengan eskalasi perang talent yang makin tinggi.

Dari hari ke hari makin terasa bahwa persoalan utama yang dihadapi banyak perusahaan dewasa ini bukanlah soal strategi bisnis atau manajemen, melainkan pertarungan yang sengit untuk mendapatkan skill dan talent.

Sebuah studi yang dilakukan KPMG dan Recruitment&Employment Confederation di Inggris menemukan bahwa merekrut orang yang tepat merupakan isu terbesar. Ini diakui oleh lebih dari separo pimpinan perusahaan dari berbagai ukuran dan sektor yang disurvei, dan membuat mereka mempertimbangkan kembali bagaimana mengelola rekrutmen dan staffing.

“Kebanyakan kaum pengusaha menyadari bahwa rekrutmen modern akan keluar dari jalur fungsi tradisional HR,” ujar Rav Bains dari KPMG.

“Apa yang sedang kita saksikan adalah bahwa banyak departemen HR kini melihat peran mereka dalam dua fungsi yang terpisah -satu sisi di wilayah isu-isu khas HR seperti mengelola staf dan hubungan antarkaryawan, dan di sisi lain rekrutmen, menemukan orang yang tepat untuk posisi yang tepat pula. Ini sedang memicu perubahan di pasar jasa HR.”

Alternatif

Pencarian staf secara otomatis berdampak pada meningkatnya biaya-biaya dan produktivitas perusahaan. Oleh karenanya, banyak pimpinan perusahaan kini berusaha menggali pendekatan-pendekatan alternatif dalam rekrutmen. Dari pemanfaatan solusi-solusi berbasis-web hingga layanan-layanan proses rekrutmen outsourcing.

Bains mengungkapkan, banyak perusahaan berskala besar yang melakukan rekrutmen langsung secara online mendapatkan hasil yang memuaskan. Di Inggris misalnya, perusahaan seperti Unilever, BBC dan Royal Mail telah mengurangi penggunaan agen-agen rekrutmen hingga 80%.

Namun, Bains mengingatkan, rekrutmen lewat internet hanya bagus untuk organisasi yang telah memiliki eksistensi atau pun brand yang cukup kuat untuk menarik kandidat dalam jumlah besar. Delapan dari 10 pimpinan perusahaan yang disurvei masih menggunakan kombinasi antara rekrutmen in-house dan jasa agen-agen untuk mencari staf.

Pada sisi lain, setelah lebih dari satu dekade rekrutmen-lewat-internet “ditemukan”, agak mengejutkan bahwa banyak pimpinan perusahaan yang masih kurang memberdayakan website perusahaan mereka.

“Internet akan menjadi perangkat rekrutmen yang penting untuk semua perusahaan tak peduli ukurannya,” simpul Bains.

Tags: ,