Pengangguran di Jepang pada Level Terburuk

Tingkat pengangguran di Jepang membengkak. Yang mengkhawatirkan, angka pengangguran Negeri Sakura per Mei 2009 dan prospek lapangan kerja berada pada level terburuk. Kondisi ini secara otomatis menambah pertanda kalau negara dengan perekonomian kedua terbesar di dunia itu tengah berjuang keras untuk keluar dari impitan krisis.
Berdasarkan data statistik dari Departemen Tenaga Kerja Jepang, tingkat pengangguran Mei 2009 naik menjadi 5,2% dari sebelumnya 5% pada April. Angka tersebut sesuai dengan prediksi para analis yang disurvei Bloomberg. Selain itu, rasio ketersediaan lapangan pekerjaan bagi setiap pelamar mengalami penurunan menjadi 0,44 –tterendah sejak survei ini dilakukan pertama kali pada 1963.
“Perekonomian masih tetap berada di level yang rendah meskipun resesi terburuk sudah berakhir. Perusahaan-perusahaan masih mencari jalan untuk memangkas biaya,” jelas Senior Market Economist Mizuho Securities Co, TokyoYasukazu Shimizu.
Sementara itu, dalam laporan yang terpisah, Biro Statistik Jepang mengungkapkan anggaran belanja individu mengalami kenaikan 0,3%. Sebelumnya, para ekonom memprediksi adanya penurunan anggaran belanja personal sebesar 1,5%.
Hal ini sejalan dengan harapan Pemerintah Jepang yang beberapa waktu lalu sudah memberikan dana tunai kepada warganya sekaligus pemangkasan pajak untuk pembelian mobil hemat bahan bakar serta insentif untuk pembelian alat elektronik ramah lingkungan seperti televisi, kulkas dan AC.
Kendati demikian, peningkatan anggaran belanja konsumen tidak cukup mendongkrak bisnis di seluruh pelaku ritel. Tak mengherankan, jika para pelaku ritel di Jepang mulai putar otak untuk mendongkrak penjualan. Misalnya, Takashimaya Co, department store ketiga terbesar Jepang, sudah memulai penjualan musim panasnya sepuluh hari lebih cepat dibanding biasanya.
“Tingkat pengangguran akan mencapai 6%. Sebab, tergerusnya laba membuat perusahaan merasa mereka memiliki pekerja terlalu banyak dan berusaha untuk menguranginya,” ujar Senior Economist Sumitomo Mitsui Asset Management Hiroaki Muto.