Pengangguran AS Tertinggi dalam 26 Tahun, Wall Street Rontok

Tingkat pengangguran di AS mencapai 9,5% pada Juni, atau berada di titik tertinggi dalam 26 tahun. Saham-saham di Wall Street pun langsung rontok oleh data terebut.
Saham-saham sudah bergerak melemah setelah Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa jumlah PHK pada Juni mencapai 467.000 orang, sehingga tingkat pengangguran total mencapai 9,5%. Angka itu lebih tinggi dari pengangguran Mei yang 9,4%.
Analis sebelumnya memperkirakan angka yang lebih rendah yakni 365.000, namun dengan tingkat pengangguran yang lebih tinggi 9,6%. Data itu juga dinilai menunjukkan bahwa setiap langkah pemulihan ekonomi tidak akan berjalan mulus.
"Meningkatnya pengangguran buruk untuk keseluruhan perekonomian. Ini tidak positif untuk saham-saham dan finansial karena ada hubungan langsung antara tingginya tingkat pengangguran dan tanggung jawab dan tunggakan pembayaran," ujar manajer portofolio dari Shaker Investment Sasha Kostadinov, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (3/7/2009).
Pada perdagangan Kamis (2/7/2009), indeks Dow Jones Industrial Averaga (DJIA) ditutup merosot 223,32 poin (2,64%) ke level 8.280,74. Indeks Standard & Poor’s 500 juga merosot 26,91 poin (2,91%) ke level 896,42 dan Nasdaq merosot 49,20 poin (2,67%) ke level 1.796,52.
Perdagangan berjalan tipis di tengah pekan perdagangan yang pendek. Hari kemerdekaan AS sedianya jatuh pada Sabtu, 4 Juli, sehingga libur jatuh pada hari Jumat, 3 Juli.
New York Stock Exchange (NYSE) juga sempat mengalami gangguan koneksi yang mengakibatkan order dari lantai perdagangan. NYSE akhirnya memperpanjang perdagangan reguler selama 15 menit untuk mengeksekusi order dari konsumen yang sempat terkena dampak tersebut.
Perdagangan di NYSE hanya sebesar 733,6 juta lembar saham, jauh di bawah rata-rata tahun lalu yang sebanyak 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 1,96 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebanyak 2,28 miliar.
Sementara, harga minyak mentah dunia kembali surut di bawah US$ 67 per barel, setelah keluarnya data pengangguran yang menghempaskan harapan akan segera pulihnya ekonomi AS.