Pencari Kerja Bohong, Pertanyaan Wawancara Terlalu Pribadi

Satu dari lima pencari kerja melakukan kebohongan besar dalam resume atau CV mereka. Survei tahunan lembaga spesialis penyaringan karyawan The Risk Advisory Group (TRAG) di Inggris atas lebih dari 3.700 CV menemukan bahwa ketidaksesuaian antara CV dengan kandidat menjadi semakin serius ketimbang sekedar kesalahan yang sederhana.
Survei tahun ini mendapati jumlah CV yang mengandung ketidaksesuaian meningkat. Lebih dari separo CV yang diteliti mengandung satu atau lebih data yang tidak akurat. Kepala bagian penyaringan karyawan TRAG Sal Remtulla mengatakan, “Hasil survei kali ini kembali meminta kita untuk memperhatikan bagaimana kandidat bisa mengabaikan soal moral dan hati nurani ketika membuat aplikasi untuk melamar kerja.”
“Ketidaksesuaian yang serius itu mendorong kebutuhan untuk memberi perhatian yang besar selama proses rekrutmen,” tambah dia. Contoh resume yang berisi kebohongan misalnya seorang kandidat mengaku pernah bekerja di sebuah perusahaan, di sebuah negara (luar negeri), dalam kurun waktu tertentu sebelum melamar ke perusahaan yang “dibohongi” tersebut.
Kasus lain yang juga dianggap sebagai kebohongan menyangkut seorang karyawan yang bermasalah. Karyawan yang baru saja diterima bekerja tersebut, ternyata sedang menjalani investigasi internal oleh perusahaan sebelumnya, karena dituduh telah membocorkan informasi penting kepada pesaing. Ketika hasil investigasi diserahkan ke pihak berwajib, dia pun akhirnya dipecat dari perusahaan barunya itu. Kasus semacam ini jelas merusak hubungan antara pengusaha dengan karyawan.
Terlalu Pribadi
Sebaliknya, sebuah penelitian terpisah mengungkapkan keluhan dari para pencari kerja. Mereka merasa terlalu banyak ditanya hal-hal yang bersifat pribadi dan kurang pantas dalam wawancara kerja. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak berkaitan dengan kemampuan kandidat berkaitan dengan pekerjaan yang dilamar. Demikian menurut riset yang dilakukan oleh perusahaan konsultan SDM di Inggris Water for Fish.
Menurut riset, dua pertiga (62%) pekerja yang telah menempuh ujian wawancara mengatakan, mereka ditanya soal usia dan lebih dari separo (55%) mengaku telah ditanya mengenai status perkawinan. Survei dilakukan atas 1000 pekerja dan menemukan bahwa 58 % dari mereka ditanya soal pribadi mengenai isu-isu medis dan kesehatan. Sedangkan 3% ditanya soal orientasi seksual dan 4% soal partai politik yang dididukung.
Direktur Eksekutif Water for Fish Ben Thomton mengatakan, “Perusahaan perlu memperhatikan dengan seksama pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan kepada karyawan yang prospektif, atau mereka akan dihadapkan pada tuntutan hukum. Informasi personal seperti umur, kesehatan, preferensi seksual dan bahkan apakah orang yang diwawancara mau diajak berkencan sungguh tidak pantas. Tak ada alasan bagi pencari kerja untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu.”

Tags: