Pemikiran Wanita Mulai Mendominasi Dunia Kerja

Pemikiran wanita, utamanya dalam bentuk pendekatan-pendekatan lateral dan kolaboratif terhadap pemecahan masalah, dewasa ini telah menggeser praktik-praktik kerja tradisional yang dibentuk oleh pria. Hal itu terjadi dalam semua level kehidupan perusahaan sebagai sebuah bentuk feminisasi tempat kerja

Pertumbuhan jumlah perempuan yang memiliki peran-peran berperanguh dalam dunia kerja modern telah menjadi tantangan tersendiri bagi struktur-struktur dan pendekatan-pendekatan lama dalam bisnis. Dan, menciptakan jalan bagi cara-cara baru dalam mengerjakan bisnis dan melakukan pendekatan-pendakatan baru untuk proses dan produk-produk.

Menurut sebuah studi yang dilakukan Future Laboratory di Inggris, keterampilan-keterampilan yang dikaitkan dengan (otak kanan) kaum wanita, seperti intuisi, kreativitas dan kemampuan berkolaborasi kini sedang menjadi elemen-elemen penting dalam dunia bisnis. Menyejajari pentingnya otak kiri dan pendekatan-pendekatan rasional dari kaum pria yang sebelumnya mendominasi.

Studi yang disponsori perusahaan asuransi Zurich tersebut mengungkapkan, wanita kini menjadi lebih penting dalam pasar global tidak hanya sebagai karyawan, melainkan juga konsumen, entrepreneur, manajer dan investor.

Ditambah lagi fakta, pengaruh dari “womenomics” istilah yang diperkenalkan oleh Majalah Economist di tempat kerja terus berkembang, khususnya ditandai dengan meningkatnya jumlah wanita dalam jajaran manajemen level-level atas.

Pengaruh-pengaruh wanita juga makin besar berkat tumbuhnya angka perempuan yang kembali bekerja setelah mempunyai anak, dan fenomena ini mendorong kemauan besar kaum pemimpin perusahaan untuk membantu mereka memfasilitasi keseimbangan antara kerja dan keluarga.

Lebih dari separo kaum ibu yang memiliki anak balita di Inggris kini bekerja (kembali). Tren ini muncul berkat makin banyaknya perusahaan yang kini mulai melakukan pendekatan matriks pada strukturnya, dibandingkan dengan perusahaan yang masih menggunakan pendekatan hierarki.

Pada saat yang sama, kaum wanita menuntut dan mendapatkan jadwal kerja yang sesuai dengan kebutuhan-kebututah hidup mereka. Antara lain berupa pemampatan jam kerja dan kesepakatan kerja jarak jauh.

Sebagai hasilnya, demikian dilaporkan, perusahaan makin melihat bahwa meng-attract dan me-retain karyawan wanita merupakan simbol dari progresivitas dan inovasi dalam berbisnis.

Pada bagian lain laporan itu juga disebutkan, baik brand maupun bisnis kini mulai merespon permintaan-permintaan dan kebutuhan-kebutuhan kaum wanita. Semua itu karena pertumbuhan jumlah wanita yang menggunakan internet, juga karena lunturnya pandangan lama bahwa teknologi, mobil dan layanan-layanan keuangan identik dengan kaum laki-laki.

Kesimpulan studi, pemikiran yang bersumber dari otak kanan, yang diyakini lebih kreatif, kolaboratif dan empatik, kini makin penting untuk membantu bisnis dalam berkomunikasi dengan konsumen yang telah lebih tercerahkan. Yakni, mereka yang menginginkan transparansi dan keaslian, di mana “pengalaman” adalah komoditas baru.

Tags: