Pekerjaan Baru Kian Minim

Tantangan pemerintah dalam menekan angka pengangguran kian berat. Investor kini lebih tertarik pada sektor padat modal, seperti pertambangan, telekomunikasi, dan perbankan. Hal ini membuat penciptaan lapangan kerja baru semakin sedikit. Jumlah pekerja informal pun terus bertambah.

Isu tersebut mengemuka dalam seminar bertajuk ”Ekonomi Informal dan Pekerjaan Layak” yang digelar Organisasi Buruh Internasional (ILO), Bappenas, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta PT Jamsostek (Persero) di Jakarta, Selasa (28/9).

Lewat seminar itu, para pemangku kepentingan yang masing-masing mewakili pemerintah, pengusaha, pekerja, sampai peneliti terserbut berupaya mencari solusi. Seminar yang dibuka oleh Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Myra Maria Hanartani itu berlangsung hingga Rabu (29/9).

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi mengungkapkan, kebijakan pemerintah dalam 10 tahun ini menurunkan minat pengusaha berinvestasi di sektor padat karya, seperti manufaktur. Hal ini membuat pekerja sektor informal terus meningkat karena angkatan kerja yang seharusnya masuk pasar kerja terpaksa terjun ke sektor informal karena keterbatasan lapangan kerja.

Dari data Badan Pusat Statistik per Februari 2010, dari 116 juta orang angkatan kerja, hanya 107,4 juta orang yang bekerja. Selebihnya, sekitar 73,6 juta (68,6 persen) ada di sektor informal.

”APBN naik dari Rp 400 triliun menjadi Rp 1.200 triliun dalam 10 tahun, mengapa tidak mampu menurunkan sektor informal? Harus ada perbaikan. Pemerintah jangan hanya statement politik, lihat di lapangan,” ujar Sofjan seperti dilaporkan Kompas.

Lebih jauh Sofjan memaparkan, pada 2008 pekerja informal menerima upah rata-rata Rp 800.000 per bulan dan pekerja formal bisa Rp 3 juta per bulan. Hal ini turut memperlebar jurang antara kelompok masyarakat kaya dan miskin.

Namun, pekerja sektor informal menghadapi persoalan mendasar dalam bekerja sesuai standar kelayakan ILO, badan PBB yang aktif mendorong pemenuhan standar pekerjaan. Mereka dibayar dengan upah rendah, tak memiliki perlindungan sosial dan tempat bekerja yang layak, serta harus menghadapi pekerjaan terburuk.

Definisi Ulang

Menurut Direktur ILO Jakarta Peter van Rooij, jumlah pekerja informal antara Agustus 2008 dan Februari 2009 naik sebanyak 2 juta orang akibat krisis global. Hal ini terjadi saat BPS mengumumkan angka pengangguran dan kemiskinan turun dari 9,39 juta orang pada Agustus 2008 menjadi 9,25 juta orang pada Februari 2009.

Kondisi itu menunjukkan, sektor informal terus tumbuh walau angka pengangguran menurun. Untuk itu, kata Rooij, pemerintah perlu mendefinisikan ulang mengenai sektor informal agar bisa menyusun formula kebijakan yang tepat guna menekan angka pengangguran dan kemiskinan lewat peningkatan sektor formal.

”Hal mendasar yang harus diketahui tentang sektor informal, apakah ini fenomena permanen atau transisi? Dialog sosial ini untuk memfasilitasi penyebaran informasi dan berbagi pengetahuan berlandaskan diagnosis bersama atas penurunan kondisi kerja layak sektor informal di Indonesia,” ujar Rooij.

Tags: