Pekerja Muda Ingin Akses dan Interaksi Lebih Besar dengan Bos

Kaum pekerja dari Generasi X dan Generasi Y lebih menyukai pendekatan “gandeng tangan” dari para manajer mereka ketimbang generasi lain. Mereka juga menginginkan akses dan interaksi sosial yang lebih besar.

Sebuah survei baru berhasil menyingkap apa yang diinginkan para pekerja muda dari manajer mereka. Dan, itu bukan kesempatan untuk mengenakan sandal ke tempat kerja atau mendengarkan iPod selama meeting.

Melainkan, mereka mengharapkan feedback yang lebih sering dari dan kedekatan yang lebih intim pada- manajer mereka. Sebagian besar dari mereka juga menginginkan kesempatan untuk bersosialisasi dengan bos secara regular.

Seperempat (26%) karyawan dari Generasi X (mereka yang lahir antara 1965 dan 1979) dan Generasi Y (lahir setelah 1980) menginginkan feedback dari bos mereka sedikitnya sekali sepekan, jika tidak bisa setiap hari. Demikian menurut studi yang dilakukan perusahaan konsultan SDM Hudson Highland Group di Chicago atas 2000 orang pekerja.

Sebagai perbandingan, hanya seperlima dari generasi baby boomers (lahir antara 1946 dan 1964) yang menginginkan feedback sesering itu. Generasi X dan Y cenderung lebih suka mempunyai manajer yang mau terbuka dan berterus-terang, kata penulis buku Managing Generation X Bruce Tulgan.

“Mereka tidak ingin harus memutar roda sendirian,” ujar dia beribarat. “Mereka ingin Anda mengungkapkan apa yang Anda tahu sehingga mereka bisa mengambil langkah.”
“Ini memang tidak seperti intuisi kita selama ini, karena Anda pikir Generasi X dan Y ingin dibiarkan (bekerja) sendirian. Tapi, apa yang bisa menggerakkan mereka adalah manajer yang lebih termotivasi; pendekatan uluran tangan sangat mereka perlukan, bukan kebijakan lepas tangan,” ujar Tulgan, yang juga pendiri perusahaan konsultan Rainmaker Thinking Inc.

Karyawan Gen Y juga cenderung menyukai interaksi sosial yang lebih sering dengan manajer mereka. Seperempat (26%) lebih suka bersosialisasi dengan bos mereka sedikitnya sebulan sekali. Berbanding dengan 21% pada Gen X dan 16% untuk “boomers”.
Kepala Operasi Hudson Highland Group Robert Morgan mengungkapkan, karyawan Gen Y cenderung menempatkan nilai yang lebih besar pada sosialisasi dengan bos untuk tujuan-tujuan praktis dan ambisi.

“Karyawan Generasi Y memahami hakikat kerja,” kata dia. “Mereka tidak sesinis Generasi X. Mereka tahu bahwa kerja itu sarana untuk mencapai sebuah tujuan akhir, dan mereka paham nilai sosialisasi sebagai jalan untuk naik ke atas; mereka sangat ambius.”

Kaum pekerja muda juga berkeinginan lebih besar untuk memiliki akses kepada manajer dibandingkan dengan pekerja yang lebih tua. Mendekati separo pekerja dari Gen X (48%) dan lebih dari separo Gen Y (55%) yang disurvei menganggap akses tersebut sangat atau paling tidak cukup penting untuk bertahan di kantor yang sama dengan bos mereka.

Ketika ditanya seberapa penting akses langsung pada manajemen bagi mereka, 81% Gen Y mengatakan sangat atau paling tidak cukup penting. Sementara Gen X dan “baby boomers” masing-masing 77% dan 76%.

Menurut Tulgan, perubahan hakikat kerja menggeser kebutuhan akan feedback yang lebih besar. “Orang melihat perusahaan-perusahaan besar secara umum sudah tak lagi peduli dengan mereka, oleh karenanya mereka berpaling pada supervisor dan teman-teman sekantor dan bilang, Aku ingin bersandar padamu. Kau di sini. Bisakah kau membantuku?” dia melukiskan.

Tags: