Para CEO Tak Percaya HRD Bisa Mengelola Tenaga Potensial

Dalam demografi dunia kerja yang terus berubah, mengelola dan mempertahankan karyawan tingkat senior menjadi prioritas terpenting bagi para CEO. Namun, ternyata mereka tidak percaya bahwa orang-orang HRD bisa melakukannya dengan benar.

Survei yang dilakukan The Towers Perrin atas kalangan eksekutif HR di wilayah Amerika Utara menemukan banyak sekali perusahaan yang mulai menyadari pentingnya me-retain tenaga-tenaga potensial di tengah lingkungan yang secara demografi terus berubah.

Di samping itu, para CEO juga lebih memfokuskan perhatiannya pada jajaran pimpinan golongan utama, ahli-ahli teknik dan kontributor-kontributor kunci yang menggerakkan bisnis, ketimbang memikirkan “talent” sebagai bagian dari perusahaan.

Tapi, terdapat jurang antara apa yang dirasakan oleh HR bahwa retensi dan pengembangan talent merupakan tujuan-tujuan penting dan utama mereka dan apa yang menurut bisnis bisa dicapai oleh HR. Sedikit CEO yang percaya bahwa HRD mereka memiliki keahlian-keahlian yang diperlukan untuk mengelola tenaga-tenaga potensial secara efektif.

Elemen-elemen yang kini diperhitungkan sebagai talent adalah pimpinan senior, karyawan level menengah dengan potensi kepemimpinan, kontributor-kontributor kunci atau ahli teknik dan karyawan level entry yang memiliki bakat memimpin. Menurut Towers Perrin, jumlah mereka bersama-sama rata-rata tidak lebih dari 15 persen dari total awak perusahaan.

“Seiring dengan bisnis yang bertransformasi pada pergerakan pertumbuhan pada lini atas, kami melihat talent muncul sebagai prioritas utama strategi perusahaan bagi para CEO, di samping eksekutif HR,” kata Max Caldwell dari Towers Perrin.

“Bagaimana pun, fungsi HR dalam sejumlah organisasi belum cukup memberikan nilai dalam area yang penting ini,” tambah dia mengingatkan, seperti dilaporkan management-issues.com.

Dibedakan

Dalam kehidupan organisasi dibedakan antara manajemen talen sebagai perangkat praktik dan program dalam skala dan segmen yang relatif kecil dan manajemen perusahaan sebagai perangkat praktik dan program yang mencakup seluruh komponen perusahaan.

Namun, hanya separo dari 250 perusahaan yang disurvei yang percaya bahwa HR memiliki keahlian yang luas dalam kegiatan-kegiatan yang mendukung manajerial, yang secara efektif diperlukan berkaitan dengan peran manajemen talent.

Lebih dari dua pertiga mengatakan, HRD mereka tidak memiliki keahlian yang dibutuhkan untuk mengukur ikatan karyawan atau mengevaluasi return dari kegiatan perusahaan yang berkaitan dengan investasi. Ketidakmampuan dalam mengelola data yang relevan dengan kegiatan manajerial juga menjadi problem.

“Sejumlah organisasi yang lebih besar dan lebih berwawasan ke depan mulai menciptakan posisi khusus senior talent management yang berkonsentrasi dalam masalah strategi talent,” catat Caldwell. “Namanya mungkin berbeda-beda, tapi perannya menemukan hal-hal yang terpadu seperti strategi perusahaan dalam perencanaan, rekrutmen, pengembangan kepepimpinan dan manajemen karir,” tambah dia.

Tags: ,